Kerjasama anatisipasi dan penanganan bencana yang sudah berjalan kurang lebih empat tahun lewat kerjasama Japan International Cooperation Agency (Jica) dengan Satlak Penanggulan Bencana Kabupaten Jember, berakhir sudah. Ini ditandai dengan Closing Whorkshop di Jember, Integrated Mitigation Management Project for Banir Bandang di Hotel Bandung Permai (5/1) kemarin.
Secara keseluruhan menurut Hariono, Direktur Daerah Aliran Kementerian PU, kerjasama dengan Jiica tersebut terbilang baik. Hanya saja soal efekttif tidaknya peralatan dan semua yang dihasilkan dalam kerjasama tersebut masih perlu diuji. “Yang perlu dilkakukan setelah pekerjaan selesai, tidak berhenti sampai di situ, tapi bagaimana keberkelanjutan dan kesinambungannya,” ujar Hariono usai digelarnya acara Whork Shop.
Hal-hal yang menurut dia harus disikapi setelah ini, lanjut dia, bagaimana peralatan yang sudah dihibahkan tetap bisa berfungsi. Termasuk di dalamnya, bagaimana cara pengoperasiannya dan pemeliharaannya. “Ini perlu dipikirkan lagi agar tetap efektif, berfungsi dengan baik,”katanya.
Dikatakannya, perlu adanya sinergisitas dengan pihak pusat maupun stakeholder yang lain untuk memantainance peralatan yang sudah diberikan pihak Jica, tidak saja dari segi peralatan tapi juga peta yang dihasilkan, sehingga tidak menjadi barang pajangan. “Tetapi bagaimana daerah lain yang sudah, terlilhat sebagai daerah rawan bencana, bisa dilakukan hal yang sama seperti daerah seperti Kali Jompo maupun Pakis,” tandasnya.
Sedang kepada masyarakat, Hari menghimbau, agar tetap menjaga kewaspadaannya karena berdasarkan pengamatan BMG bulan Pebruari-Maret, curah hujan masih tetap tinggi. Simulasi yang sudah dilkakukan di Kali Jompo dan sebagainya, termasuk Peta ini perlu diamati dengan baik, apalagi ini hasil pengematan yang dilakukan dalam waktu panjang
Sekretaris Satlak PB Jember, Drs Edi B Susilo, menambahkan, langkah yang sudah dilakukan Jica selama kurun waktu empat di Jember, dinilainya sangat memuaskan. Menurut Edi, Jica telah memberikan pembelajaran sekaligus hasilnya dalam bentuk kajian, kaitan pola penanganan bencana di Jember dalam bentuk protap yang bisa dilaksanakan oleh Satlak PB Jember.
Demikian halnya dengan pembuatan peta rawan bencana, kata Edy terbukti memberikan kemudahan dalam merencanakan dan melakukan antisipasi dini dalam penanganan bencana. Lebih dari itu, lewat kerjasama antara Satlak PB Jember dengan Jica dan Yayasan Pengabdian Masyarakat (YPM) Unej berhasil merumuskan SOP untuk penanganan banjir bandang. “Dari ini bisa dilihat bagaimana penanganan banjir dari hulu ke hilir dan siapa berbuat apa. Minimal SOP Kalijompo, Pace, bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Jember untuk penanganan kemungkinan terjadinya banjir bandang,” paparnya
Edy juga merasa bangga karena lewat kerjasama itu, Jember setidaknya bisa menjadi rujukan untuk belajar bagaimana menanganai bencana banjir bandang bagi kabupaten/kota lainnya. “Kalau ingin mengetahui dalam penanganan banjir bandang maka Jica meminta datang ke Jember. Karena itu butuh kesiapan Jember dalam rangka transfer of velue, tapi lebih penting dari itu, bagaimana menanganai daerah sendiri agar lebih optimal,” katanya.
Mengenai adanya jembatan yang menggunakan kontruksi seperti gorong-gorong, di Kahendran Dusun Cempoko, kata Edy, sudah mendapat perhatian, karena jembatan ini berpotensi menyumbat arus sungai yang membawa materi, seperti batangan kayu dan sebagainya ketika terjadi banjir. “Kalau itu tidak dirubah pada tahun-tahun mendatang, kemungkinan itu bisa terjadi (banjir). Oleh karena itu Dinas PU Pengairan dan Bina Marga diminta untuk mengevaluasai jembatan model itu direnovasi,” pungkasnya. (mc_humas/Ind)