Jember Kota Pandhalungan

Antrokan, Air Terjun di Lereng Argopuro

Anugerah Alam yang Tercecer

            Air Terjun AntrokanBerpetualang di Antrokan mengajak kita meninggalkan zona nyaman sekaligus menyambangi pesona bumi yang tersembunyi. Menikmati air terjun, melewati track bebatuan besar dibalik celah-celah air yang begitu jernih.

Jalanan mulai menyempit ketika kami memasuki Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul-Jember. Kelokan jalanan yang sedikit terjal semakin menambah seru perjalanan, aliran sungai di pinggiran sawah disertai sapi-sapi yang berjejer di sekitar ladang warga, semakin membuat kami merasakan suasana pedesaan.

Sekitar 3 Km dari pertigaan Pak Jenggot, Tanggul, yang merupakan jalan utama menuju ke desa ini, mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah minimalis bercat putih. Seseorang dengan perawakan tinggi tegap menyambut kedatangan kami dengan senyuman, yang tak lain ternyata Kepala Desa Manggisan, Holili.

Di rumah Pak Kades, kami sedikit berbincang mengenai air terjun yang akan kami datangi, mengenai akses jalan menuju kesana “Jalannya sudah enak, gak seperti dulu, karena itu saat ini banyak orang-orang yang berdatangan, terutama kalangan muda, bahkan para turis pun juga ada yang datang kesini,” ujarnya.

Bersamanya, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju tempat yang menjadi tujuan utama kami. Memasuki area perkebunan, jalanan yang kami lalui semakin terjal, benar-benar memacu adrenalin, asik dan seru.

Dari balik kaca terlihat rimbunnya pepohonan, beberapa bunga yang mulai bermekaran dihinggapi beragam kupu-kupu dengan berbagai corak dan warna, sungguh sangat indah, tak ingin melewatkan moment tersebut, teman saya, sang fotografer tanpa dikomando langsung mengabadikan moment indah tersebut.

Roda ban mobil yang kami tumpangi terus berputar membawa kami melewati deretan anak-anak sungai yang dialiri air yang begitu jernih, daun-daun yang berguguran dan jatuh tepat di anak sungai membuat kami semakin takjub dengan pesona alam kota Jember.

Setelah melewati sedikit tanjakan yang sedikit membuat kami pusing, tibalah kami disebuah rumah kuno yang terbuat dari anyaman bambu, disekitar rumah tersebut terdapat banyak pepohonan yang menjulang tinggi.

Metorok montor (mobil,red) entarah ka Antrokan (Nitip mobil, mau ke Antrokan ),” ujar Pak Kades pada si pemilik rumah, sang pemilik rumah mengiyakan dan tersenyum pada kami semua.

Dari rumah tersebut, kami melanjutkan perjalanan kembali, namun kali ini dengan berjalan kaki. Memasuki jalan setapak, langkah terasa sedikit berat, terlebih track yang dilewati terjal, namun semangat terus membakar tatkala sasaran akan kami tuju, yakni air terjun Antrokan semakin dekat.

Suara riuh gemercik air mulai terdengar dari balik dedaunan, kami semakin mempercepat langkah kaki, namun tetap dengan hati-hati, mengingat tepat di sebelah kiri kami merupakan jurang, meski tidak terlalu curam.

“Cepatttttt….ini sudah terlihat air terjunnya”, teriak salah seorang teman yang telah sampai lebih dulu. Sayapun semakin penasaran, mulai berlari-lari kecil, dan… air terjun terpampang bak lukisan, sungguh terbayar sudah lelah yang kami rasakan.

Untuk dapat mendekat ke air terjun tersebut dibutuhkan waktu beberapa menit , melewati anakan sungai dan bebatuan yang berjejer dengan rapinya. Setelah melepas sepatu dan sedikit menjinjing celana, kamipun mendekati air terjun tersebut.

Melewati bebatuan yang sedikit licin dan besar memang membutuhkan ekstra hati-hati , agar tidak tergelincir yang bisa membahayakan keselamatan. Namun hal tersebut akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan, melewati bebatuan tinggi besar dengan menapakkan kedua tangan sebagai tumpuan agar tubuh tidak terjatuh, berpelosot ria dari bebatuan tingi yang teksturnya halus, dan melewati kerikil bebatuan di balik celah-celah air.

Sekitar 30 meter dari air terjun, cipratan air mulai mengenai pakaian saya dan beberapa teman yang juga turut mendekat. Aliran air yang begitu jernih membuat saya tak kuasa untuk tidak menyentuhnya, sayapun langsung membasuh telapak tangan dan wajah dengan air yang jatuh dari ketinggian sekitar 100 meter.

Rasa dingin pun seakan tak terasa, yang seakan-akan ingin berlama-lama di tempat itu. Aku pun merasa lebih fresh sehabis menempuh perjalanan yang cukup jauh dan tentunya saja lumayan melelahkan.

Perjalanan menuju air terjun memang tidak begitu sulit, namun memang ada beberapa track jalan yang sedikit bebatuan dan terjal, namun semua itu akan terbayar ketika anda telah sampai dan melihat salah satu ciptaanNYA..

Jari dari pusat kota Jember, tidak terlalu jauh, hanya sekitar 35 kilomter, cukup ditempuh 1 jam anda sudah sampai ke Air Terjun Antrokan, yang letaknya di Desa Manggisan ke utara, dari Kota Tanggul. Jika anda hendak ke tempat ini, apabila berangkat dari Kota Jember, bergeraknya ke arah barat atau jurusan Surabaya.

Sesampai di Tanggul, ada pertigaan Koramil. Di pertigaan Koramil Tangil ini anda belok ke kanan, dan sampai di pertigaan belok lagi ke kanan. Sekitar 100 meter ada akan ketemu lagi dengan pertigaan yang di kalangan masyarakat Tanggul dikenal dengan nama pertigaan Pak Jenggot.

Dari tempat ini anda berbelok ke arah kiri dan lurus ke arah utara sampai perkebunan Kakao. Di pertigaan kebun kako ini anda belok lagi ke arah kiri dan mengikuti jalan terus, sampailah ke Antrokan.

Teriakan salah seorang teman saya mengagetkan saya, “Siniiiiii….. banyak ikannya” …karena penasaran, sayapun menuju kerah teman saya yang berada sekitar 5 meter di samping saya. Ternyata benar saja, puluhan ikan berenang dengan lihainya di dalam air yang begitu jernih, namun karena kami tak membawa peralatan untuk memancing, kamipun hanya bisa melihat ikan-ikan tersebut menari-nari di dalam air.

Kamipun beristirahat di bawah air terjun, menikmati bekal seadanya yang kami bawa, rasanya begitu nikmat, makan bekal dibawah gemercik air yang turun dari ketinggian 50 meter, sangat menyenangkan.

Di sana kami juga bertemu dengan beberapa wisatawan yang turut berkunjung di Antrokan. Sebut saja Lina dan salah seorang temannya, mereka datang karena ingin melewati hari libur ke tempat tersebut. “Disini seru, kita bisa berpetualang, berfoto-foto dengan background air terjun, bener-bener refreshing deh pokoknya,” ujarnya.

Namun sayang, keindahan itupun tak dapat aku nikmati sepuasnya, karena kamipun harus segera melanjutkan tugas yang mesti dijalani. Dengan perasaan berat dan seakan masih ingin terus menikmtai eskotika Antrokan, kami bersama teman-teman melangkahkan kaki meninggalkan Anugerah Alam yang Tercecer di Lereng Gurung Argopuro.

Ya itulah, pesona alam yang sangat menakjubkan, yang perlu dilestarikan, agar bisa dinikmati hingga generasi mendatang. Tuhan telah menciptakan keindahan itu untuk kita nikmati, bukan dikotori, apalagi dirusak.(fera)

No Response

Comments are closed.