Jember Kota Pandhalungan

BAKAL TIDAK LAGI BERGANTUNG APBD

Awal pelaksanaan bulan berkunjung ke Jember (BBJ) tahun 2008 hampir seluruh kegiatannya dibiayai oleh anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kabupaten Jember hal itu dikarenakan BBJ masih dirasa asing oleh masyarakat, suatu saat kegiatan tersebu tidak diambilkan dari APBD Kabupaten Jember kendati hanya satu rupiah.Mengingat, BBJ adalah suatu kebutuhan dan merupakan kegiatan tradisional melembaga serta dilaksanakan oleh masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Penegasan itu disampaikan oleh bupati Jember Ir.MZA.Djalal, MSi saat menutup kegiatan pameran dan lomba foto Jember  multi event 2013  Jum’at (4/10) di alun-alun Jember, orang nomer satu di Kabupaten Jember tersebut melihat kemajuan luar biasa dari pelaksanaan agenda tahunan Jember multi event yakni tingginya partisipasi swasta yakni kalangan pengusaha untuk meramaikan sekaligus menyukseskan perhelatan akbar tersebut.Hal ini merupakan indikasi Jember multi event mulai dilirik dan diminati oleh sponsor, juga nantinya kegiatan Pemkab Jember itu tidak  bersumber  dari APBD.

“Saya sebagai bupati Jember punya obsesi suatu saat entah kapan BBJ tidak lagi memakai dana APBD dan itu memang butuh waktu, partisipasi pengusaha di BBJ dari tahun ke tahun meningkat dan pembiayaan dari APBD sedikit demi sedikit bisa dikurangi.Pembiayaan BBJ sekarang  ini tidak semuanya mengandalkan dari APBD, memang ada diantara kegiatan tersebut murni dibiayai APBD.Selain itu juga biayanya merupakan gabungan APBD dan partisipasi masyarakat, malahan ada seluruh biayanya ditanggung oleh masyarakat,”ujar Djalal.

Pada kesempatan tersebut MZA Djalal juga menjelaskan, saat ini gaung dari BBJ atau Jember multi event ini sudah mendunia.Djalal mencontohkan, berkat Jember Fashion Carnaval (JFC) tingkat hunian hotel di Kabupaten Jember melonjak tajam.Tidak hanya wisatawan domestik tapi juga wisatawan mancanegara.Tidak sedikit fotografer asing sengaja bermalam di kota suwar-suwir ini untuk mengabadikan karnaval tersebut melalui bidikan kamera, termasuk saat berlangsung Jember Open Marching Competition (JOMC).

“Kondisi ini juga terjadi ketika BBJ tahun sebelummya ketika dilangsungkan kejuaraan motor cross internasional, saat itu pula Jember kedatangan tamu dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand, Australia dan India.Atmosfir Jember pun mendadak dipenuhi oleh bendera-bendera peserta motor cross, pandangan mata dunia seketika itu tertuju ke kota Jember.Meski Jember hanyalah sebuah kota kecil tapi keberadaan BBJ mampu menghipnotis jutaan manusia untuk ikut bergembira, semua media cetak dan elekronik pun menjadikan BBJ sebagai sumber berita,”ungkap Djalal.

Djalal juga menambahkan, Pemkab Jember tahun 2012 lalu mendatangkan kosultan  ekonomi independen  sekaligus ahli statistik dari Surabaya yakni Krisnayana  untuk mengadakan riset sejauh mana pengaruh BBJ terhadap peningkatan pendapatan masyarakat karena salahsatu demensi dari BBJ itu adalah ekonomi.Terbukti memang ada dampak dari BBJ ini terhadap masyarakat khususnya pedagang kaki lima (PKL), tak salah jika kegiatan itu terkandung demensi ekonomi dan itu terlihat  manakala ada keramaian BBJ seperti JFC, JCC, JOMC maupun Tajemtra.

“Ini menjadi keyakinan tersendiri bagi Pemkab Jember didasari penelitian pakar ekonomi untuk tetap kembali menggelar BBJ tahun depan dan tahun berikutnya, karena BBJ ternyata berdampak positif terhadap perekonomian di Kabupaten Jember,”.(Winardyasto)

No Response

Comments are closed.