Jember Kota Pandhalungan

Berawal Dari Birnie

No comment 227 views

Tak ada yang tahu persis bagaimana Jember berawal. Namun semua sepakat, tembakau adalah bagian dari sejarah pertumbuhan kota ini. Dalam hal ini, George Birnie bolehlah dianggap sebagai Bapak Jember modern. Birnie seorang warga negara Belanda keturunan Skotlandia. Sekitar tahun 1850, Birnie membuka perkebunan tembakau di Jember, untuk dipasarkan hasilnya ke eropa. Birnie mendatangkan pekerja dari Blitar dan Pulau Madura.

Birnie menikahi Rabina, seorang perempuan Jawa, dan mengirim anak-anak mereka ke Belanda untuk belajar. Nama perusahaan perkebunan Birnie adalah Lanbhouw Maaschappij Oud Djember. Selain perusahaan Birnie, ada tiga perusahaan lain, yakni De Landbouw Maatscappij Soekowono milik Fransen van de Putte; De Landbouw Maatscappij Jelbuk milik Du Ry van Best Holle dan Geertsma; dan De Landbouw Maatscappij Soekokerto Ajong milik keluarga Baud.

Pekerja-pekerja perkebunan yang didatangkan dari beberapa daerah di Jawa Timur, membuat Jember menjadi ramai. Tahun 1805, jumlah penduduk Jember hanya lima ribu orang. Akhir abad 19 sudah mencapai sekitar satu juta orang. Mobilisasi dilakukan oleh Besoekisch Imigratie Bureau (BIB). Perkumpulan pengusaha ini memang menjadi penyedia tenaga kerja perkebunan dan mengurusi kesejahteraan para pekerja itu.

Rumah sakit bagi pekerja perkebunan yang didirikan tahun 1911 di Krikilan adalah salah satu ide BIB. Perusahaan perkebunan pula yang membangun infrastruktur transportasi di Jember. Tahun 1880-1990, perusahaan LMOD membangun jalan penghubung antara kantor pusatnya di Jember dengan wilayah perkebunan di di Mayang, Wuluhan, Tanggul dan Puger. Tahun 1897, jalur kereta api Jember– Probolinggo – Surabaya dibangun. Dengan transportasi kereta api, buruh perkebunan mulai didatangkan dari JawaTimur bagian barat dan Jawa Tengah.

Jalur kereta api digunakan pula untuk mengangkut tembakau ke pelabuhan Panarukan. Dari sinilah, tembakau dikirim ke Rotterdam, Belanda. Di Jember, dua komoditas utama tembakau adalah na oogst (NO) dan voor oogst (VO). Tembakau jenis NO dipasok ke eropa sebagai bahan cerutu. Cita rasa tembakau Jember khas, sehingga tidak ditemukan pada tembakau yang ditumbuhkan di daerah lain di Indonesia.

Tahun 2002, volume ekspor tembakau Jember sempat mencapai 17.932 ton per tahun, dengan nilai 43,7 juta dollar Amerika Serikat. Tembakau sudah menjadi bagian kehidupan rakyat Jember. Sekitar 90 persen lahan tembakau adalah perkebunan rakyat. Sisanya dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara milik negara dan perusahaan swasta. Menarik sekali menyaksikan proses penyortiran daun tembakau, pembuatan cerutu tangan, dan bahkan membeli cerutu di lokasi tersebut sembari menikmati suasana perkebunan yang asri. Inilah yang ada di unit industri Bobbin milik PT Perkebunan Nusantara X di Desa Jelbuk Kecamatan Jelbuk. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari pusat kota dan Boss Image Nusantara (BIN) di Jubung. (*)

No Response

Leave a reply "Berawal Dari Birnie"