CEGAH IMPOR PERLU PERLAKUAN TEMBAKAU SECARA OPTIMAL

 

Pasca diberlakukannya PP No.109 Tahun 2012 memunculkan keresahan tersendiri di kalangan petani, akibatnya petani tembakau dan buruh pabrik rokok melakukan unjuk rasa menolak peraturan tersebut.Apalagi selama ini sekitar 6 juta rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya pada tanaman tersebut, tidak hanya itu saja dari cukai tembakau negara sangat diuntungkan.Tahun 2010 tembakau dan produk tembakau lainnya seperti rokok dan cerutu mampu memberi kontribusi cukai sebesar Rp.69 triliun, kondisi ini dari tahun terus meningkat di tahun 2011 dihasilkan cukai  Rp.60,1 triliun dan tahun 2012 melonjak drastis mencapai Rp.70 triliun

Demikian dipaparkan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat menjadi narasumber utama simposium nasional tembakau di Inna Simpang Hotel Surabaya Sabtu (6/7), topik bahasan simposium itu adalah konsensus standar mutu tembakau pasca diberlakukannya PP.No.109 Tahun 2012.Gubernur menjelaskan, Propinsi Jawa Timur merupakan penyumbang terbesar untuk ekspor tembakau dan salah satunya adalah dari Kabupaten Jember.Dalam simposium tersebut dijelaskan juga oleh Soekarwo, munculnya perdebatan pro dan kontra terhadap rokok dan tembakau, membuat peneliti harus mencarikan alternatif pemanfaatan tembakau selain bahan baku rokok.

“Berbicara Jawa Timur jelas tidak bisa dipisahkan dari permasalahan tembakau dan tanaman ini tersebar di 22 kabupaten, tak heran jika tembakau menjadi tanaman andalan bagi petani karena dirasa menguntungkan.Tembakau selama ini dibudidayakan oleh petani di lahan kering, saat komoditas lain seperti palawija dan tanaman pangan lain tidak berproduksi optimal.Tanaman tembakau sendiri menduduki peringkat kedua  tertinggi setelah tanaman teh untuk penyerapan tenaga kerja, dari catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Timur tahun 2012  industri rokok  tercatat  sebanyak 612  dan memiliki tenaga kerja 180.652 orang,”ungkap Soekarwo.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur Soekarwo juga sangat menyayangkan tingginya impor tembakau dibanding ekspor, orang nomer satu di Jawa Timur itu mencontohkan, di Jawa Timur tahun 2012 saja impor tembakau mencapai 50,585, 960 dan nilainya US $ 209,794,802.Diakui oleh Soekarwo, selama ini Indonesia hanya mengekspor tembakau mentah tanpa melalui proses terlebih dahulu, padahal kalau tembakau itu mendapat sentuhan lebih sebelum di ekspor maka impor tembakau dari luar negeri dapat dihindari, jika hal itu tidak segera dikendalikan maka masuknya tembakau dari negara lain justru merugikan petani.

Menanggapi hal itu Ir.Desak Nyoman Siksiawati,MMA Kepala UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang Lembaga Tembakau Jember mengungkapkan, banyak hal kenapa saat ini Indonesia masih saja mengimpor tembakau?, salah satunya seperti apa yang diungkapkan oleh Gubernur Soekarwo tersebut.Namun demikian Desak mengingatkan, kendati impor tembakau saat ini masih berlangsung, tidak berarti kwalitas tembakau  petani mutunya jelek.Jelasnya, impor tembakau hanya berpengaruh pada kwantitas atau jumlah ekspor tembakau dan hingga kini pemerintah belum menetapkan kebijakan impor tembakau.

“Kalau pemerintah nantinya mengeluarkan kebijakan impor tembakau itu sah-sah saja karena selama ini tembakau kita sebelum di ekspor hanya diolah setengah jadi, namun demikian ada hal perlu diperhatikan oleh pemerintah yakni mengendalikan impor tembakau dan harapannya mampu melindungi tembakau milik petani bukan malah sebaliknya .Kalau pemerintah mengeluarkan regulasi tembakau maka hal itu mau tidak mau juga berlaku bagi tembakau domestik, misal pemerintah memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk ambang batas residu, maka baik itu tembakau impor atau tembakau dalam negeri juga harus mentaati ketentuan tersebut,”tandas Desak. (winardyasto)

No Response

Comments are closed.