Jember Kota Pandhalungan

Desa Wisata Perlu Tambahan Sarana Penunjang

Desa Wisata

Jember Kita. Berjalan diantara pepohonan rimbun dengan dedaunan hijau di alam pedesaan yang tenang dan damai, sungguh sangat menyenangkan. Panorama yang demikian ini, merupakan potensi wisata yang sangat menjanjikan untuk ditawarkan di tengah kebutuhan masyarakat yang haus akan suasana segar alami.

            Hanya saja, agar potensi wisata ini benar-benar memiliki daya tarik, perlu kelengkapan infrastruktur yang memadai. Karena jika tidak, maka sebesar apapun potensi wisata alam yang ada, tidak akan banyak diminati pengunjung.

            Kabupaten Jember sebagai salah satu daerah yang mencoba mengembangkan wisata pedesaan, berusaha memanfaatkan kekhasan desanya, untuk dikembangkan menjadi obyek wisata. Pengembangan sektor kewisataan alam pedesaan ini, sejalan dengan program Pemprop Jawa Timur, yang sejak beberapa tahun belakangan mencanangkan Desa Wisata.

            Ada empat desa yang dicanangkan sebagai Desa Wisata oleh Pemkab Jember, yang dipilih menjadi Desa Wista. Desa tersebut antara lain, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, dan Desa Sumberjambe, Kecamatan Sumberjambe. Masing-masing dari ke empat desa tersebut memiliki kekhasan sendiri-sendiri.

            Desa Kemuning Lor, selain karena didukung Pemandian Rembangan, desa ini juga dikenal sebagai penghasil buah naga dan duren. Desa Sukorambi, dikenal dengan potensi sayur mayur-nya. Desa Sumberejo, yang berbatasan langsung dengan Semudera Indonesia, diharapkan menjadi andalan Wisata Bahari di Kabupaten Jember. Demikian juga dengan Desa Sumberjambe, diplih menjadi Desa Wisata karena potensi batiknya dengan corak khas kelokal-lokalan, seperti batik dengan motif tembakau dan dedaunan.

Untuk Desa Sukorambi, yang terpilih menjadi daerah tujuan wisata alam pedesaan, merupakan pemasok sayuran ke pasar utama Jember, Pasar Tanjung. Selain itu, desa ini juga memasok hasil sayuran ke Carefoure. “Untuk yang ke Carefoure, dipilih yang bagus-bagus, sedangkan yang dijual ke tengkulak, yang biasanya dilakukan masyarakat di sini, sayurannya biasa-biasa saja,” ujar

Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam pedesaan dengan hamparan tanaman sayuran, bisa dating ke desa ini. Di desa ini pengunjung bisa melihat tanaman sayuran, seperti, sawi, bayam, kangkung, slada, dan lainnya yang ditanam cukup rapi oleh petaninya.

Pengunjung yang datang ke desa ini juga bisa melihat, bahkan mencoba cara menamam sayuran, sebagaimana dilakukan petani. “Kita mencoba bekerjasama dengan sekolah-sekolah, agar siswanya bisa diajak ke sini untuk melihat bahkan praktik menanam sayuran,” ujar Estin Vergi Cahyani, Ketua TPK PNPM Pariwisata, Desa Sukorambi.

            Pengembangan potensi wisata pedesaan di Sukorambi yang dimulai sejak tahun 2009 silam, lanjut dia, sebenarnya akan banyak memberikan manfaat, tidak hanya untuk pemerintah daerah tapi juga masyarakatnya. Masyarakat bisa mengambil manfaat dengan pengembangan tanaman sayuran yang memang sudah biasa dijalani sejak lama.

            Dengan semakin dikenalnya Sukorambi sebagai penghasil sayuran, dengan sendirinya juga akan diikuti oleh semakin tingginya permintaan sayur oleh pasar. Di sinilah masyarakat bisa mengambil peran dengan lebih meningkatkan produksi sayurannya.

            Ada kelebihan khusus yang dimiliki Sukorambi berkaitan dengan produksi sayurannya. Sayuran yang dihasilkan desa ini, ditanam dan dirawat dengan menggunakan pupuk organik. “Itu sesuai dengan permintaan pasar. Makanya produksi sayuran dari desa ini, 80% organic,” terang Estin.

            Yudi Astutik, Ketua Kelompok Agro Wisata, Sukorambi, yang merupakan petani pemasok sayuran ke Carefoure, menambahkan, pengiriman sayuran yang sudah dilakukan selama ini, sebanyak 2 kali dalam sehari. “Semula melayani pesanan tengkulak, sekarang menerima pesanan dari carefoure, dalam sehari dua kali pengiriman,” ungkap Astutik.

            Sebagaimana dikatakan Estin, Astutik juga mengakui, bahwa perawatan untuk tanaman sayuran di kebunnya dilakukan sesuai dengan permintaan pemesanan, yakni menggunakan pupuk organik.

Menurut Astutik, sayur yang dikirim ke carefoure yang merupakan hasil pertanian sendiri dari lahan seluas kurang lebih 1 hektar. Sedang jenis sayuran yang dikirim, antara lain, bayam, kangkung, kenikir, sawi, tomat, slada, dan cabe merah.

            Sekretaris Desa Sukorambi, Karyanto, menjelaskan, bahwa pengembangan desa wisata di desanya, yang persiapannya sejak tahun 2009, bermula dari adanya Taman Botani dan potensi sayur mayur yang ada di desa itu. Pengembangan desa wisata ini di bawah binaan Kantor Pariwisata dan Budaya, Kabupaten Jember. “Teman-teman di sini, ada yang sudah pernah ikut study banding ke Jogja. Dari kantor pariwisata, kita juga dapat bantuan pelatihan manejemen,” imbuhnya.

Sementara mengenai desa wisata sendiri, sesuai dengan yang diharapkan Pemprop Jatim, selain bisa menjadi andalan wisata di Jawa Timur, juga diharapkan bisa mendongkrak peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar desa wisata. Digantungkannya harapan kepada desa wisata ini, karena desa-desa yang telah diplot menjadi Desa Wisata, masing-masing memiliki keunggulan.

Hanya saja, agar besarnya potensi kewisataan yang ada ini bisa lebih memberikan nilai tambah dan semakin diminati pengunjung, maka factor pendukungnya juga harus ikut menunjang. Hal itu utamanya dari ketersediaan sarana prasarananya atau potensi lain yang ada di sekitarnya, seperti hasil pertanian atau kerajinan yang bisa dijual kepada wisatawan. *Indra GM

No Response

Comments are closed.