Jember Kota Pandhalungan

DESAIN UNIK, PASAR MELIRIK

551 views

Jember Kita. Sekelompok anak muda tengah asyik memilih kaos yang terletak di salah satu outlet di jantung kota Jember. Mereka tampak antusias memilih kaos yang bercirikan Jember untuk dibawa pulang. Salah satu dari mereka tampaknya tertarik dengan kaos warna abu-abu dengan design tower air Pasar Tanjung yang terkesan klasik dan ikonik. Tak butuh aktu lama untuk memilih, ia kemudian memantapkan pilihan pada kaos tersebut.

Ya, saat ini Jember tengah dibanjiri oleh industri kreatif garmen yang sedang ngetrend dengan kaos Jemberan. Kaos tersebut seolah membanjiri pasar-pasar di Jember, mulai dari pasar tradisional, outlet khusus, hingga pusat perbelanjaan besar.

Jember yang mulai menggeliat dari sisi kunjungan wisata dari tahun ke tahun, rupanya dibaca cermat oleh pelaku usaha. Mereka seolah berlomba sekreatif mungkin untuk menyeret pasar ke dalam industri kreatif yang mereka produksi. Salah satu pelaku usaha dalam industri garmen yang rutin memproduksi kaos Jemberan adalah Dian. Owner label Biru Daun ini melakoni usaha kaosnya sejak tahun 2010, dan mulai membuka outlet sendiri di tahun 2012.

Berbekal dari kecerdasannya membaca kebutuhan pasar, ia dan suami saling mengisi dan berkarya secara total dalam menciptakan kaos-kaos khas Jember. Berbekal pemikiran awal bahwa potensi anak muda di Jember sangatlah banyak, ia memantapkan langkah untuk menapaki industri yang cukup baru baginya. Genre yang sebagian besar tergila-gila pada casual fashion ini menurutnya bisa jadi pangsa pasar yang besar untuk usaha yang akan ia geluti.

Karena Dian membidik pasar anak muda, ia tak bisa berhenti untuk membarui desain yang ia buat. Ia harus terus menciptakan desain-desain unik yang bisa memikat hati segmen pasarnya. Persaingan sengit dalam industri ini juga membuatnya harus sekreatif mungkin untuk membuat desain yang tak sama dengan yang lain

“Misalnya dengan desain pasar tanjung ini. Kami desain sedemikian rupa agar kesannya tidak kaku dan anak muda juga suka. Atau desain I Love Jember, logo love nya kita ganti dengan simbol daun waru, jadi beda dengan yang ada di pasaran pada umumnya,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa desain kaos yang ia miliki.

Dian mempekerjakan sekitar 11 orang, mulai dari sablon, kreatif, hingga menjaga outlet. Ia mengaku tidak terlalu kesulitan dalam mencari inspirasi desain. Ia hanya cukup berjalan-jalan di sekitar Jember dan mencermati apa yang ada di setiap sudut kota, mulai dari tempat-tempat ikonik, kuliner, event, hingga life style sampai gaya bahasa.

Setiap ia berhasil menemukan desain baru, industri kecil miliknya ini mampu membuat 50 hingga 60 kaos dalam satu kali produksi. Ia tidak memproduksi ulang satu design yang sudah ia buat demi menghindari kejenuhan pasar. Namun ketika ada lonjakan  permintaan untuk desain yang sama, barulah ia memproduksi lagi desain tersebut.

Satu kaos ia banderol dengan harga 60 ribu hingga 80 ribu rupiah tergantung ukuran dan tingkat kesulitan design. Meskipun harga kaos tersebut bisa saja tidak terbilang murah untuk kalangan anak muda, tetapi ia mengaku dari awal tahun pembuatannya, penjualan kaos-kaos hasil produksinya terus meningkat, terutama saat ada gelaran event yang ada di Jember.

“Kalau ada event, seperti JFC dan lain-lain, pesanan kaos bertambah. Apalagi JFC kan pesan kaosnya ke kami. Jadi kami buatkan juga,” ungkap Dian.

Selain mengandalkan outlet resmi tokonya yang terletak di Tegal Besar, pemasaran dilakukan Dian dengan cara menitipkan ke outlet-outlet khas Jember yang lain. Cara pemasaran lain yang ia jalankan adalah dengan cara penjualan online yang bisa memperluas pangsa pasar. Karena itulah kaos hasil desain industri milik Dian mampu menggapai pasar luar kota seperti Balikpapan, Pontianak, dan Jakarta. (Anik Dwi Mulyani)

No Response

Comments are closed.