Jember Kota Pandhalungan

Dinilai Lebih Prospektif, Alih Profesi Menjadi Pengrajin Tempe

tempeSiapa yang tak mengenal tempe, selain harganya yang murah, makanan yang satu ini memiliki banyak senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan antara lain seperti sejumlah lemak, berbagai mineral, baik makro maupun mikro,protein nabati, serat pangan alami, karbohidrat, isoflavon, beragam vitamin mulai yang larut dalam air sampai yang larut dalam minyak dan masih banyak lagi lainnya. Sehingga tak heran jika tempe banyak digandrungi masyarakat. Banyak orang yang mengkonsumsi tempe, mulai dari masyarakat awam, hingga keluarga kaya dan pejabat. Semua menyukai makanan yang satu ini. Selain dijadikan lauk pauk, tempe juga bias dijadikan sebagai cemilan Karena minat masyarakat yang begitu tinggi itulah, banyak orang yang bernbondong-bondong melakoni bisnis ini.Di Jember sendiri, banyak yang berprofesi sebagai pengrajin tempe, karena dinilai berprospek. Seperti yang dikatakan salah seorang pengrajin tempe, Muhammad Taufik. Pria asal Desa Glagahero, Kecamatan Kalisat ini mengaku cukup lama menjadi pengrajin tempe, karena dirasakannya bisa meningkatkan perekonomian rumah tangga. “Awalnya saya bekerja di bengkel, lama-lama saya merasa penghasilannya sangat minim, sehingga saya memutar otak, kemudian saya punya ide untuk membuat tempe. Awalnya masih mencoba, dan lama-lama banyak tetangga yag mesan tempe sama saya. Dari situlah saya meneruskan untuk dijual ke warung-warung dan pasar. Dan alhamdulilah sampai sekarang masihberjalan,” akunya. Mengenai proses pembutan tempe, dikatakannya tidak terlalu sulit, cara yang digunakan sangatlah sederhana. Proses awal pembuatan tempe, menurut Taufik, diawali dengan penyucian kedelai. Setelah dianggap bersih, kedelai kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air. Setelah itu kedelai dipanaskan. Ini berfungsi agar kedelai mengembang. Selanjutnya, kedelai dicuci lagi dengan dibuang kulitnya, kemudian direndam satu malam. Keesokan harinya, kedelai dimasak untuk kedua kalinya selama beberapa jam. Selanjutnya kedelai ditiriskan dan didinginkan terlebih dahulu. Selama pendinginan, kedele ditaburi ragi, agar tempe mengalami fermentasi. “Prosesnyatidak mudah, sangat sederhana, biasanya dalam sehari bisa mengabiskan 20 kilogram Kedelai, tergantung, kadang kalau ada permintaan banyak, bisa lebih dari itu,” ujar Taufik. Tempe yang dijualnya, terdiri dari tiga ukuran, ada yang kecil, sedang dan besar, Harganya pun bervariasi, tergantung bentuk ukurannya, mulai dari harga Rp.1000, hingga Rp.3.500. Diakuinya, usaha pengrajin tempe memang berprospek, karena minat masyarakat terhadap tempe sangat tinggi”menurut saya , berwirausaha tempe memang sangat menjanjikan, prospek kedepan juga baik karena banyak yang suka, gizinya tinggi,harganya juga murah”tegasnya

No Response

Comments are closed.