Hari Pahlawan, Nyekar di Makam Srikandi Perang Kemerdekaan

Sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan yang telah dengan ikhlas mengorbankan jiwan raganya demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sejumlah elemen masyarakat menggelar tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Tanggul. Gelar Tabur Bunga dalam rangka memperingati Hari Pahlawan itu, diikuti oleh para veteran pejuang dari Tanggul, Semboro, Bangsalsari, anggota FKPPI, Panca Marga dan Pembina Kader Bela Negara.

Seperti lazimnya, prosesi kegiatan ini diawali dengan upacara yang kemudian diteruskan dengan penaburan bunga ke makam pahlawan. “Prinsip ada keinginan bersama untuk memberdayakan potensi yang ada. Jika dulu mereka berjuang melawan kedholiman penjajah. Saatnya kini bangkit menjadikan semangat juang para pendahulu sebagai pendorong bagi upaya merebut kemerdekaan ekonomi,” ujar Miftahul Rahman, Ketua Pembina Kader Bela Negara, Jember.

Miftahul mengatakan, dalam kondisi yang kerap tidak menguntungkan bahkan menyulitkan masyarakat ini, harus direbut melalui upaya perbaikan di segala bidang. “Kita juga harus merebut kembali keterpurukan dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang jelas kami akan terus malakukan upaya membangkitkan kembali nilai nilai kejuangan pada jaman now,” tegasnya.

Sementara gelar peringatan Hari Pahlawan yang dikemas dalam bentuk kegiatan Tabur Bunga di TMP Tanggul, dilanjutkan dengan ziarah ke makam Hj.RA.Sri Suli Sulastri, isteri Brigjen Syafiudin, mantan Komandan Yon 25, Brigade III/Damarwulan.

Sulastri, menurut Indra G Mertowijoyo, penulis buku “Letkol Moch Sroedji, Jember Masa Perang Kemerdekaan”, adalah ‘Srikandi’ pejuang, yang bersama-sama suaminya (Brigjen Syafiudin), turun di medan laga. ” Beliau itu juga anggota palang merah. Kemanapun Pak Syafiudin bergerak, Bu Sulastri selalu mendampingi. Jadi beliau itu bukan ibu rumah tangga biasa,” terang Indra yang juga turut serta dalam acara Tabur Bunga dan Ziarah di TMP Tanggul itu.

Indra menceritakan, kisah perjuangan Sulastri dalam ikut mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, diantaranya, ketika Komando Batalyon 25, Brigade III/Damarwulan berada di tempat pengasingan di Pondokdalem, Tanggul. “Waktu itu Pak Syafiudin dan Bu Sulastri nyaris ditangkap patroli Belanda. Beruntung pemilik rumah, Pak Kamsiti, punya inisiatif menyuruh Pak Syafiudin dan Bu Sulastri untuk bersembunyi di atas pogo (tempat pemyimpanan kayu di atas tungku,red),” papar Indra.

Setelah pasangan pejuang itu naik ke atas pogo, isteri Pak Kamsiti, menyalakan tungkunya. “Karena waktu itu tungkunya dalam keadaan nyala, Belanda tidak menaruh curiga kalau di atas pogo itu ada pemimpin pasukan pejuang dan isterinya tengah bersembunyi,” kenang Indra, seraya menirukan kisah yang dituturkan narasumber seperti yang tertulis dalam buku “Letkol Moch Sroedji, Jember Masa Perang Kemerdekaan”. (Izza, Mutia)

No Response

Comments are closed.