Jember Kota Pandhalungan

HUJAN JELANG TEBANGAN TAK PENGARUHI RENDEMEN TEBU

Anomali iklim diakui berdampak anjloknya produktifitas tanaman tebu, kondisi ini juga dirasakan di Kabupaten Jember dan kabupaten lain di Indonesia.Apalagi ketika cuaca tidak bersahabat dan ditandai turunnya hujan berkepanjangan menjelang tebangan, membuat jumlah pasokan tebu ke pabrik gula (PG) ikut berkurang karena munculnya tunas muda di tanaman tebu dan menyebabkan tebu tersebut tidak layak giling.Kendati demikian, hal itu tidak membuat kwalitas tebu merosot, bahkan rendemennya tetap stabil yakni 7,25% layaknya tahun sebelumnya.

Hal itu dikatakan oleh Ir.Masykur Kepala Dinas Perkebunanan dan Kehutanan Pemkab Jember, tahun 2012 lalu produksi tanaman tebu ini mencapai 900 kwintal per hektar  dan jumlah tersebut menurun drastis di tahun 2013 ini yakni 700 kwintal per hektar.Tebu sendiri berbeda seperti tanaman lainnya, umumnya tanaman ini siap untuk ditebang ketika berumur 12 bulan.Namun demikian ada juga varitas tebu tertentu tidak perlu waktu lama untuk siap tebang, di Kabupaten Jember sendiri tebu varitas Bulu Lawang (BL) lebih disukai.

“Varitas tebu Bulu Lawang ini memang kadar rendemennya cukup bagus dan petani lebih banyak memilih varitas ini ketimbang lainnya, selain itu varitas tersebut lebih tahan terhadap hama.Tebu ini kebanyakan dikarenakan serangan hama penggerek pucuk maupun penggerek batang, hal ini mengakibatkan rusaknya tanaman tebu dan tidak bisa digiling.Saat tanaman pangan diserang hama tikus ternyata tebu juga merasakan imbasnya, tebu baru tanam  pun tak luput dari incaran tikus dan ini membuat petani tebu merugi,”jelas Masykur.

Gangguan hama penggerek pucuk dan penggerek batang itu sebetulnya biasa disiasati oleh petani tebu, mereka selama ini lebih mengandalkan pupuk urea dan pupuk ZA.Jika petani saat memperlakukan tanaman tebu itu menggunakan pupuk lengkap tidak melupakan pupuk KCL, jelas memperkuat daya tahan tanaman tebu terhadap gangguan hama tersebut.Padahal petugas lapangan dasri Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pemkab Jember selalu mengingatkan penggunaan pupuk KCL, namun masih ada saja petani tebu tidak mengindahkan hal tersebut.

Lebih lanjut Masykur mengungkapkan, areal tanaman tebu di Kabupaten Jember  seluas 10 hektar dan tersebar di semua kecamatan di Kabupaten Jember terkecuali Kecamatan Ambulu, bukan karena kecamatan tersebut merupakan daerah pinggiran pantai namun memang kebanyakan masyarakatnya berprofesi sebagai petani padi maupun palawija.Dari data di Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pemkab Jember menyebutkan, sebaran areal lahan tebu terbanyak di Kabupaten Jember berada di wilayah bagian barat dan selatan.

“Tanaman tebu ini banyak ditanam di Kecamatan Semboro, Kencong, Tanggul maupun Bangsalsari, tebu itu memang dibudidayakan oleh masyarakat secara tradisional artinya memang secara turun temurun.Saat ini Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pemkab Jember mencoba untuk mengembangkan areal tanaman di bagian timur dan utara, ini merupakan upaya untuk mendongkrak produktifitas tanaman tebu. Di awal tahun 2014 nanti dinas ini akan memperluas areal tanaman tebu sebanyak 1500 hektar, harapannya produktifitas tebu bisa melonjak,”imbuh Masykur.

Ditambahkan oleh Masykur, Dinas Perkebunan dan Kehutananan Propinsi Jawa Timur di tahun 2015 bakal menaikan ambang batas rendemen tebu menjadi 10%, hal itu diakui oleh Masykur tidaklah sulit bagi petani asalkan pemakaian pupuknya lengkap dan itu bakal menaikan rendemen tebu.(winardyasto)

No Response

Comments are closed.