Jember Kota Pandhalungan

Jamur Tiram Putih Tembus Pasar Ekspor

jamur tiram putihDari Jember untuk Indonesia, itulah yang saat ini tengah dilakukan oleh petani jamur lewat Koperasi Petani Jamur Nusantara (Kotanimura). Koperasi yang berdiri awal tahun 2012 ini, setidaknya telah membina 80 orang petani jamur. Anggota Kotanimura sendiri berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Jember, diantaranya dari Kaliwates, Patrang, Sumbersari, Ambulu, Pakusari, Bangsalsari, Ajung, Tanggul, Sukowon, Panti, Jelbuk, Sukorambi, Tempurejo, Sumberbaru, Kalisat dan Balung. Mereka yang tergabung dalam koperasi ini, merupakan petani jamur yang kerap menghadapi kendala pemasaran. Karena itu, untuk meringankan beban mereka dalam pemasaran, yang tidak jarang juga berimbas pada menurunnya produktivitas, maka dibentuklah wadah koperasi. Berkat adanya Kotanimura kondisi tersebut berubah total, produksi jamur meningkat, dan pendapatan petani juga semakin membaik. “Sebelum Kotanimura ini terbentuk, awalnya kita sempat berburu pembeli jamur di Jakarta dan bertemu dengan Pak Tedy salah seorang seorang pengusaha jamur asli Jember. Lantas dia mau membantu dalam hal pemasaran dan melahirkan MoU untuk produksi jamur,” ujar Drs Sumpono anggota dewan pengawas Kotanimura yang beralamatkan di Jl.Lumba-lumba No. 03 Sempusari Jember Lahirnya MoU ini, menurut dia, kemudian ditindaklanjuti dengan kontrak produksi suplai jamur tiram putih sebanyak 90 ton per bulan yang nilainya milyaran rupiah. Jamur hasil produksi petani Jember itu kemudian dikirim ke Jepang. “Pengirimannya menggunakan 5 kontainer, tiap kontainer berisi 16 ton , karena itu Kotanimura ini lantas membeli jamur milik anggotanya sesuai harga di pasaran yakni Rp. 9000 per Kg dan mereka tidak lagi direpotkan soal pemasaran,”tukas SumponoNamun demikian apa yang diterima oleh Kotanimura dari petani yakni jamur tiram putih sebanyak 3 ton per hari, tidak serta merta bisa langsung diekspor ke Jepang. Pasalnya, terbatasnya ketersediaan alat, menyebakan petani tidak bisa melakukan pemrosesan sendiri untuk mengelola menjadi jamur segar. Hanya saja hal yang seperti ini tidak diangga sebagai kendala bagi Kotanimura, untuk memenuhi kontrak produksi. Meski perlakuan terhadap jamur itu butuh waktu sekitar 1 bulan, namun komoditi ekspor tersebut bisa tahan hingga 2 bulan, karena sebelumnya diberi obat pengawet berupa cairan, sehingga kualitasnya tetap terjaga. “Saat ini Kotanimura memiliki 40 karyawan, laki-laki dan perempuan, di bagian produksi maupun pengepakan. Karena jumlah jamur yang dibutuhkan cukup banyak, petani juga mempekerjakan beberapa orang untuk budidaya jamur tiram putih ini. Bisa dibayangkan kesibukan petani jamur ini setiap harinya, mereka memiliki 25 ribu log bag (media jamur) dan itu didapatkan dari Kotanimura,”tandasnya. Usaha jamur tiram putih ini lanjut dia, cukup menguntungkan, karena itu tidak salah kalau banyak diminati oleh petani. Untuk budidaya, modal awal yang dibutuhkan hanya Rp.25 juta, dengan keuntungan yang akan diperoleh sebesar Rp.11 juta selama 3 bulan. Sumpono juga menjelaskan, di Jepang, jamur dari petani binaan Kotanimura tersebut diolah menjadi jamur kering untuk dikomsumsi. Uniknya, setelah jamur sampai ketangan pembeli,ternyata dikirim kembali (re-ekspor) ke Indonesia, dan dibeli oleh perusahaan makananan, seperti mie instant. Sukses yang dicapai Kotanimura dalam memberdayakan petani jamur tiram dengan ditandai mampu menembus pasar Jepang

No Response

Comments are closed.