Campak Rubella

JEMBER ALAMI INFLASI 0,95 %

267 views

Asisten Direktur BI, Dwi Suslamanto, saat mengadakan jumpa pers TPID

Untuk memberikan kepastian kepada masyarakat akan terpenuhinya kebutuhgan Sembako di pasaran. Tim pengendali Inflasi Daerah ( TPID ) Kabupaten Jember menggelar rapat koordinasi dalam rangka mengantisipasi gejolak harga barang sembako. Pada akhir Februari 2013 kemarin, Kabupaten Jember mengalami inflasi sekitar 0,95 %, dimana dari 7 kota di Jawa Timur yang mengalami Inflasi, Kabupaten Jember merupakan Kabupaten yang paling tinggi mengalami inflasi setelah Sumenep.

Dalam rapat koordinasi TPID yang dilaksanakan di aula Bank Indonesia, 4/2, yang juga dihadiri oleh BPS Jember, Bulog Jember, Bagian Perekonomian Kab Jember, serta beberapa pejabat terkait. Dimana inflasi Februari Kabupaten Jember melebihi prakiraan awal tahun yaitu 0,58 % dan secara historis mencapai 0,32 %. Pada Februari 2013 sendiri, tekanan harga terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 2,26% diikuti oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 2,17 %.

Seperti dikatakan oleh Asisiten Direktur BI, Dwi Suslamanto, bahwa infalsi di Jember terjadi dipicu oleh naiknua harga tukang bukan mandor, serta naiknya harga sayur mayur seperti tomat sayur, bawang putih. Dan, naiknya tarif PDAM, daging sapi, dan tarif listrik.

Untuk sayur-sayuran, seperti tomat sayur, sawi, bayam, kangkuing mengalami peningkatan hampir 7,57 %, sedangkan Bumbu-bumbuan seperti bawang putih, cabe rawit, bawang merah, cabe merah besar mengalami peningkatan 6,81 %.

Menurutnya lagi, bahwa meski mengalami kenaikan, namun indeks keyakinan konsumen masyarakat Jember masih pada level optimis, dimana berdasarkan survei konsumen pada bulan februari 2013 ini, indeks keyakinan konsumen untuk Kabupaten Jember mencapai pada level 119,2. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Jember saat ini yang tercermin dari indeks kondisi ekonomi (IKE) dan indeks ekpektasi konsumen (IEK) dengan saldo bersih masing-masing 104,3 dan 134,0. Tak hanya itu saja, ungkapnya, kondisi optimisme masyarakat ini juga banyak diepengaruhi banyak tersedianya lapangan pekerjaan di Kabupaten Jember saat ini.

Sementara itu, Dwi juga mengatakan bahwa kondisi konsumtif dari masyarakat Jember juga mengalami lonjakan yang signifikanm, dimana berdasarkan hasil survei pada bulan Februari bahwa komposisi penggunaan penghasilan untuk konsumsi meningkat sekitar 69 % yang sebelumnya hanya berkisar pada 66 % dari penghasilan yang digunakan untuk konsumsi. Termasuk, lanjutnya, penggunaan penghasilan untuk cicilan pinjaman juga mengalami peningkatan sebesar 15 % dari 30 %. Untuk penggunaan penghasilan yang digunakan untuk tabungan menurun menjadi 18 % dari 23 %.

TPID Kabupaten Jember sendiri, menurut Dwi mengusulkan agar masyarakat bersama pemerintah untuk melakukan pemanfaatan lahan pekarangan (KRPL) untuk memenuhi kebutuhan sayur-sayuran serta bumbuan seperti tomat, kangkung, cabe rawit. Sehingga, lonjakan harga tersebut dapat di tekan sedemikian mungkin

Download Logo HUT RI 72
No Response

Comments are closed.