Kelebihan Produksi Daging Ayam, Deflasi Jember Tertinggi di Jatim

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember mencatat, kelebihan produksi daging ayam, telah turun memberikan andil terjadinya deflasi di Kabupaten Jember. Dari catatan BPS Jember menunjukkan, bahwa terjadinya penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras di Jember, akibat kelebihan produksi dari dua komoditas tersebut.

Kelebihan produksi ini bahkan tercatat secara nasional, bahwa bibit ayam mengalami kelebihan produksi. Kelebihan produksi ini yang menjadi pemicu turunnya harga daging ayam ras, karena persediaannya melebihi kebutuhan.

Penurunan harga daging ayam ras ini juga berdampak pada penurunan harga daging ayam kampung sebagai komoditas subtitusi. “Selama tiga tahun berturut-turut, Kabupaten Jember mengalami deflasi pada bulan Oktober 2015, Oktober 2016, dan Oktober 2017 dengan masing-masing laju deflasi 0,05 persen, 0,26 persen, dan 0,17 persen,” ujar Indriya Purwaningsih, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember.

Deflasi yang terjadi di Jember pada bulan Oktober 2017, menurut Indriya, dapat diartikan, bahwa harga bahan pokok di wilayah setempat cukup stabil, meskipun ada beberapa komponen bahan pokok harganya yang naik. Secara umum, Kabupaten Jember mengalami deflasi tertinggi di Jawa Timur pada bulan Oktober 2017 yakni 0,17 persen.

Deflasi sebesar 0,17 persen ditunjukkan oleh penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari September 2017 sebesar 125,83 persen menjadi sebesar 125,62 persen pada bulan Oktober 2017. Bebera kota di Jawa Timur, yang mengalami deflasi tertinggi antara lain, Kabupaten Jember dan Kota Probolinggo masing-masing sebesar 0,17 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Kediri sebesar 0,12 persen. Pada bulan Oktober 2017, untuk Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,02 persen dan nasional mengalami inflasi sebesar 0,01 persen.

Tiga kota di Jawa Timur, yang mengalami deflasi, selain Kabupaten Jember, juga Kota Probolinggo dan Kota Kediri.

Dijelaskan, bahwa terjadinya deflasi bulan Oktober disebabkan karena penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada dua kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan sebesar 1,2 persen dan kelompok sandang sebesar 0,1 persen. Beberapa komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi, antara lain daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, garam, apel, daging ayam kampung, tomat, sayur, wortel, anggur, dan terong panjang.

Sementara dari delapan kota IHK di Provinsi Jawa Timur yang mengalami inflasi, antara lain, Kota Madiun, Kabupaten Banyuwangi, Kota Surabaya, Kabupaten Sumenep, dan Kota Malang.

“Inflasi tertinggi terjadi di Kota Madiun sebesar 0,14 persen, diikuti Kabupaten Banyuwangi (0,09 persen), kemudian Kota Surabaya (0,05 persen), Kabupaten Sumenep (0,03 persen), dan inflasi terendah terjadi di Kota Malang sebesar 0,02 persen,” papar Indriya.

BPS Jember juga melansir Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2016 yang merupakan kerjasama dengan Bappekab Jember. “NTP terukur dengan besaran 103,80 persen, apa yang dirasakan petani secara umum petani di Jember mengalami surplus dan pendapatan petani naik lebuh besar dibanding dengan kenaikan biaya produksi dan pengeluaran konsumsi rumah tangganya sebesar 3,8 persen terhadap kondisi tahun 2012,” imbuhnya. (Indra GM)

No Response

Comments are closed.