Jember Kota Pandhalungan

KETIKA GUMUK TAK LAGI MENJULANG

100 views

Jember Kita. Jember ‘Kota Seribu Gumuk’. Demikianlah salah satu sebutan untuk Kota Jember, diantara sebutan-sebutan lainnya, seperti Kota Tembakau, Kota Seribu Pesantren dan Kota Santri. Ya itulah Jember. Dengan berbagai atribut dan sebutannya, yang menunjukkan kota ini memiliki berbagai potensi.

Namun sayang, sebutan Kota Seribu Gumuk yang disandangkan pada Jember, saat ini mulai terkikis keberadaannya. Ratusan gumuk (bukit) yang berterbaran di seluruh antero Jember, saat ini sudah banyak yang rata dengan tanah, berubah menjadi pemukiman atau lahan pertanian (tegalan).

Sangat memprihatinkan memang, karena fungsi gumuk bagi Kota Jember tidak hanya untuk tetenger (penanda). Tapi juga keindahan, penahan angin, serta ikut mempengaruhi iklim dan cuaca di Jember, utamanya berkaitan dengan musim tanam tembakau yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jember.

Karena itu butuh kearifan dari masyarakat, untuk tidak terus menerus mengeksploitasi gumuk. Sebab kalau semua gumuk yang ada di Jember dikeruk dan diambil materialnya hingga rata dengan, maka sangat dimungkinkan Jember akan mengalami banyak perubahan, bisa mudah tersapu puting beliung atau bahkan cuacanya akan semakin panas.

“Saya harus peka terhadap dinamika masyarakat berkaitan dengan keberadaan gumuk yang menjadi ciri khas Kabupaten Jember, bahkan kota ini dikenal dengan sebutan Sejuta Gumuk, namun  sebagian besar sudah diratakan,” ujar MZA Djalal, Bupati Jember.

Bupati Djalal mengakui, Pemkab Jember tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan perataan gumuk oleh masyarakat, karena tidak memiliki cukup regulasi, karena kepemilikannya merupakan hak pribadi masyarakat. Namun masih ada satu yang tersisa dan perlu dilestarikan keberadaannya.

Terlebih aturan pelarangan perataan gumuk sampai saat ini masih belum ada. Karena itu ketika akan memprotek sesuatu, Pemkab Jember harus memberikan jalan keluar, bisa dilakukan dengan cara dibeli atau diberi subsidi..

Diserukan kepada masyarakat, bahwa salah satu gumuk yang ada, yakni Gumuk Kerang, akan dijadikan monumen, simbol. Gumuk Kerang dipilih untuk dilestarikan dan dijadikan menumen, karena merupakan yang tertinggi diantara gumuk yang ada di kawasan kota, sehingga apabila berdiri di puncaknya, seseorang akan bisa melihat seluruh kawasan kota Jember. Oleh karena itu, keberadaannya perlu diamankan, karena jika tidak, dikhawatirkan juga akan habis.

Pengamanan dan pelestarian Gumuk Kerang, menurut bupati, tidak hanya bisa dilakukan dengan memberi pagar pengaman saja. Tapai bagaimana agar keberadaan Gumuk Kerang itu bisa memberi manfaat lain bagi masyarakat yang membutuhkan tempat tenang dan nyaman untuk beristirahat dan berlibur.

Bupati menyatakan, Gumuk Kerang harus menjadi contoh bagi gumuk-gumuk yang lain, untuk tidak diratakan. “Jadikan sebagai sarana hiburan, diberi fasilitas untuk olahraga, taman dan dihutankan,” kata bupati.

Dengan cara ini, diharapkan tahun 2014, Gumuk Kerang akan menjadi taman kota yang hijau dengan pohon langka yang hampir punah. Di tempat ini, perlu juga dibuat jogging track, sehingga ketika hari minggu, masyarakat tidak hanya berjubel di alun-alun kota.(Indra GM/JK)

No Response

Comments are closed.