Kopi Jember Go International

460 views

Mengemuka, Gagasan Kopi Khas Jember

Hari Ini, Wabup Akan Jadi Sales Kopi di Pasar Dunia

JAKARTA – Perubahan iklim yang melanda dunia selama beberapa tahun terakhir, perlu disikapi oleh petani lokal di Indonesia untuk menjaga produktivitasnya. Karena itu, petani rakyat juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai isu-isu global. “Masyarakat petani lokal perlu mendapatkan pendampingan intensif untuk meningkatkan SDM mereka. Seperti masalah pemupukan dan perubahan iklim, sehingga produktivitas mereka meningkat, bukan malah turun,” tutur Wakil Bupati Jember, KH Muqit Arief yang turut diundang dalam World Plantation Conferences and Exhibition (WPLACE) yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Rabu (18/10) kemarin.

Acara konferensi perkebunan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan akan berlangsung selama tiga hari hingga hari Jumat esok. Konferensi tersebut menghadirkan praktisi, peneliti, birokrasi dan peneliti perkebunan dalam beberapa komoditas perkebunan strategis seperti tebu, kopi, kelapa sawit dan sebagainya. Mereka berasal dari sekitar 32 negara dari lima benua.

Jember fokus mengikuti konferensi kopi bertajuk International Coffe Conference on Climate Change and Soil Degradation (IC4SD 2017).

Pada hari kedua penyelenggaraan atau hari ini, Muqit rencananya akan didaulat menjadi pembicara bersama Jeffrey Nelson (Sydney University) dan Bustanul Arifin (Universitas Lampung) serta beberapa kepala daerah lainnya. Tak sekedar membahas problem yang dihadapi masyarakat petani kopi, Muqit rencananya juga akan menjadi “sales” atau mempromosikan potensi kopi Jember ke hadapan pebisnis kopi dunia. “Karena produksi dan potensi kopi kita ini luar biasa, lebih besar dibanding daerah tetangga. Maka ini menjadi peluang emas untuk memajukan komoditas kopi Jember,” tutur pria asal Silo tersebut.

 

Kopi Khas Jember

Salah satu isu yang mengemuka terkait optimalisasi potensi kopi di Jember adalah penetapan kopi khas (specialty coffee) Jember dan Indikasi Geografis. “Sekarang ini banyak kopi yang ditanam di Jember, tapi di jual ke luar dengan nama daerah lain. Begitu juga sebaliknya, banyak tembakau dari luar Jember yang diklaim sebagai hasil penanaman di Jember. Karena tembakau kita sudah terkenal ciri khasnya,” tutur Arum Sabil, tokoh masyarakat petani yang turut diundang dalam konferensi tersebut. Arum diundang antara lain dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina DPP Gaperindo (Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia) yang membawahi berbagai asosiasi  komoditas perkebunan di Indonesia.

Karena itu, Arum mengusulkan agar Jember segera menetapkan Indikasi Geografis (IG) sehingga memiliki kekhasan citarasa kopi tersendiri. Menurut Sukrisno Widyotomo, Kepala Balai Penelitian Kopi pada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka Jember), upaya pengajuan IG ke Kementerian Hukum dan HAM, bisa menjadi langkah awal untuk penentuan kopi khas spesial (specialty coffee) Jember. “Kita juga perlu menentukan titik-titik mana saja di Jember yang cocok ditanami kopi Robusta maupun Arabika. Keduanya sama bagusnya, tinggal bagaimana kita mengolahnya,” tutur Sukrisno.

Usul tersebut direspon positif oleh Pemkab Jember. “Kita telah memulainya antara lain dengan mendorong agar kopi tidak sekedar dijual biji, tapi diolah menjadi bubuk. Usul penetapan Indikasi Geografis itu usul yang bagus dan akan kita kaji lebih lanjut,” tutur Muqit. Pemkab Jember juga punya keprihatinan dengan banyaknya kopi asal Jember yang dijual tidak dengan menyertakan label Jember.”Padahal kopi kita juga tidak kalah dengan yang di Bondowoso,” pungkas Muqit. (ad)

 

Sumber: ADI FAIZIN/ RADAR JEMBER

No Response

Comments are closed.