Jember Kota Pandhalungan

Kualitas di Atas Impor Kelengkeng Lokal Siap Bersaing

SBupati Panen Klengkengemakin beragam saja hasil pertanian di Kabupaten Jember. Setelah sebelumnya dikenal sebagai penghasil rambutan, manggis, buah naga, jeruk, kemudian duren dan beberapa jenis buah lainnya, Jember kini menambah satu lagi produk buah-buahannya.

Jenis buah itu adalah Kelengkeng. Jenis buah ini bisa tumbuh dengan baik di beberapa kawasan di Kabupaten Jember, utamanya di daerah barat selatan yang tanahnya memang dikenal sangat subur. Tanaman buah Kelengkeng yang dikembangkan di daerah Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, ternyata cukup memberikan hasil yang sangat menggiurkan.

Betapa tidak, dalam setiap kilogramnya jenis buah ini bisa dijual dengan harga antara Rp 27 sampai Rp 30 ribu. Sebuah harga yang sudah barang tentu amat disukai oleh masyarakat petani, karena paling tidak bisa memberikan keuntungan lebih dibanding komoditi buah lainnya, seperti rambutan.

Jenis buah kelengkeng yang dihasilkan Kecamatan Umbulsari ini, terbilang memiliki kelebihan dibanding buah yang sama dari luar negeri (impor). Jika buah kelengkeng impor hanya mampu bertahan kurang lebih 4 hari, buah kelengkeng hasil produksi Umbulsari, bisa sampai 10 hari.

Keunggulan lain dari buah kelengkeng Umbulsari dibanding yang dari luar negeri, adalah rasanya yang sangat manis. “Kelengkeng di sini lebih tahan lama, bisa sampai 10 hari, dibanding kelengkeng impor dari Thailand yang hanya mampu bertahan sekitar 4 hari dan mudah busuk,” papar Ahmad Hamid, petani agrobisnis di Desa Gunungsari, Kecamatan Umbulsari.

Hamid yang saat ini membudidayakan tanaman buah kelengkeng, mengaku, sangat beruntung, karena bisa memberikan penghasilan lebih. Sebab itu, bagi masyarakat yang berkeinginan untuk membudidayakan tanaman buah ini, dia menyarankan, memilih jenis kelengkeng diamond river. “Untuk bisnis, yang baik diamond. Jenis ini memiliki keunggulan, harganya bagus, rasanya manis, harganya bisa sampai Rp 27 ribu per kilogram,”ungkapnya.

Hamid, yang mengaku mulai menekuni agrobisnis sejak tahun 90-an lalu, pada tahun 2008, mulai mencoba menanam dua jenis kelengkeng, diamond river dan aroma durian. Awalnya dia hanya menanam kelengkeng dengan mengambil hasil cangkokan dari tanaman induknya di Jawa Barat.

Namun belakangan, seiring banyaknya permintaan, Hamid juga mulai menjual bibit kelengkeng dari hasil cangkokan (okulasi) sendiri. Dia lebih memilih mencangkok agar bibit yang dihasilkan bisa seperti induknya.

“Kita tidak melayani bibit tanaman dari biji, karena ada kecenderungan akan mengalami perubahan sifat,” ujarnya, seraya menambahkan peminat bibit kelengkeng ada juga yang berasal dari Tulungagung.

Camat Umbulsari, Purwoadi, SH, menambahkan, bahwa pengembangan produk buah-buahan yang dilakukan petani di daerahnya, merupakan upaya kreatifitas yang perlu dukungan dan dorongan dari pemerintah. Dukungan maupun  dorongan seperti ini sangat perlu, agar upaya yang dilakukan petani dalam mendapatkan penghasilan lebih bisa berjalan optimal.

“Ini sejalan dengan enam program prioritas yang dicanangkan Pemkab Jember di bawah kepemimpinan Bupati MZA Djalal. Sektor pertanian merupakan salah satu program, yang perlu didorong dan didukung sepenuhnya, agar bisa semakin meningkat,” ujarnya.(*)

No Response

Comments are closed.