Jember Kota Pandhalungan

LABAKO, TARIAN EKSOTIS PENUH GEMULAI

Manusia dan seni adalah suatu yang tidak dapat dipisahkan. Seni adalah sebagian hidup manusia. Menciptakan sesuatu yang berdasarkan budaya menjadi sebuah karya yang indah dan enak untuk dipandang mata.Sebagai salah satu contohnya adalah tarian. Tarian terdiri dari gerakan yang dihasilkan lekukan-lekukan tubuh yang harmonis ditambah dengan alunan musik yang indah serta aksesoris sang penari tersebut yang menambah kesan eksotis dan estetis.

Selain dikenal dengan berbagai potensinya, Jember juga dikenal akan budayanya yang terbilang unik, hal itu dikarenakan daerah ini merupakan daerah pandalungan. Secara budaya, yang disebut masyarakat pandalungan adalah masyarakat hibrida, yakni masyarakat berbudaya baru akibat terjadinya percampuran dua budaya dominan. Dalam konteks kawasan “Tapal Kuda” Jawa Timur, budaya pandalungan adalah percampuran antara dua budaya dominan, yakni budaya Jawa dan budaya Madura.

Pada umumnya orang-orang pandalungan bertempat tinggal di daerah perkotaan. Secara administratif, kawasan kebudayaan pandalungan meliputi Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Lumajang. Perkembangan kesenian di wilayah pandalungan tidak terlepas dari bentuk-bentuk akulturasi dan akomodasi produk kesenian etnik dominan. Percampuran budaya tampaknya sangat mempengaruhi ekspresi masyarakatnya dalam berkesenian. Sejatinya, proses invensi dan modifikasi kesenian juga terjadi.

Di Kabupaten Jember sendiri ada berbagai seni budaya yang juga tak kalah bagus jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Dengan ke-khasan yang dimiliki, membuat kesenian yang ada di Jember lebih mudah dikenal oleh khalayak.Mulai dari kesenian musiknya yang dikenal dengan musik patrolnya hingga seni tari yang dikenal dengan tarian Labakonya.

Tarian labako merupakan salah satu dar sekian banyak tarian khas yang ada di Jember, Tarian labako ini merupakan salah satu tarian yang diciptakan seorang seniman yang terinspirasi akan salah satu komoditi Jember, yakni daun tembakau.

Hingga saat ini, tarian tersebut banyak diminati, karena selain gerakannya yang indah, tarian tersebut memiliki banyak makna dalam setiap gerakannya, sehingga tak heran, baik warga asli jember maupun wisatawan juga tertarik dengan tarian ini.

Dari Tarian hingga Labako Na’Ogst

Seperti kebanyakan di daerah lain, Jember juga memiliki tarian khas yang dikenal dengan tarian Labako. Labako merupakan salah satu dari sekian banyak  tarian khas yang ada di kota ini, dengan ke-khas an yang dimiliki membuat tarian labako disenangi banyak orang.tak hanya masyarakat Jember saja, para pelancong dari luar pun tertarik dengan tarian unik ini.

“Saya pernah melihat tarian labako, saat berkunjung ke Jember  beberapa waktu lalu, kebetulan tarian ini menjadi tarian pembukaannya, tarian labako ini sangat unik , karena tarian ini ada maknanya, bukan hanya sekedar menari, tapi ada ke-khas an tersendiri, ada alur ceritanya, sangat menarik”ujar Rani,  salah seorang pelancong dari Surabaya.

Meski tarian Labako ini dikenal hingga level Internasional dan beberapa kali memenangkan kompetisi , namun masih banyak orang yang bertanya-tanya, dan  belum mengetahui asal muasal dan sejarah tarian ini.

Tarian Labako kali pertama diciptakan pada tahun 1983, pada saat itu  Jember masih di bawah kepemimpinan oleh Bupati Suryadi Setyawan. Ketika itu Bupati Suryadi, memiliki keinginan Jember memiliki tarian tradisional sendiri.

Karena pada waktu itu Jember masih belum memiliki tarian khas daerah, maka dimintalah Bagong Kusudiharjo, seorang seniman tari dan dalang kenamaan dari Jogjakarta untuk menciptakan tarian Labako ini.  Dengan mengangkat tema “Tembakau” Bagong akgirnya membuat tarian ini menjadi tampak klasik, karena tema yang diangkat sesuai dengan ciri khas Jember, yakni sebagai kota penghasil tembakau.

Filosofi tarian ini-pun sangat berkaitan dengan hal-hal tentang tembakau. Bagaimana tidak, jika dari awal hingga akhir tarian ini, semua  menceritakan tentang tembakau, mulai dari para petani tembakau yang bertanam tembakau, saat panen ,hingga proses tembakau , semua tergambar jelas dalam tarian ini.

Karena itulah , semakin lama, tarian ini semakin menarik perhatian masyarakat, karena tarian ini dinilai tidak hanya sebuah gerak belaka, namun didalamnya juga mengandung banyak filosofi, yang turut mengenalkan potensi Jember melalui tarian labako ini.

Tak hanya itu saja, karena dianggap tarian labako ini dapat dikembangkan, seorang seniman muda asli Jember, Sulistyowati, mulai menggarap ulang tarian labako ini, tanpa mengubah filosofi awal. Sulis berhasil mengembangkan tarian Labako ini, sehingga pada tahun 2007 terciptalah Tarian Labako Na’Oogst.

Di tangan seniman muda yang juga berprofesi sebagai guru kesenian di SMAN 2 Jember itulah , tarian Labako diberi warna lain, seperti  gerakan tarinya, kostum tarian dan musik pengiringnya yakni musik patrol, yang iramanya sengaja dibuat lebih cepat, agar terlihat lebih rancak.

“Saya mulai mengembangkan tarian labako itu pada tahun 2007, tanpa mengubah filosofinya, saya mulai menggarap tarian itu dengan sentuhan gerak yang sedikit berbeda jika dibandingkan sebelumnya, music patrol pengiringnya jugak dibuat lebih rancak, kenapa memilih music patrol, karena menurut saya music patrol itu identik dengan kota Jember,”  ujar Sulistyowati.

Ia juga menjelaskan, bahwa jumlah untuk para penari dalam tarian labako na’ogst itu tidak terpatok, karena semakin banyak penarinya, maka tarian akan semakin hidup pula “biasanya 8 orang, namun kalau lebih banyak penarinya itu akan lebih bagus, tarian akan semakin hidup”tegasnya.

Sedangkan untuk kostum, menurutnya kostum yang dipakai para penari tidak hanya sekedar kostum saja, namun juga memiliki makna tersendiri, mulai kostum yang dipakai dari ujung rambut hingga ujung kaki, memiliki makna tersendiri,

“Kostumnya juga memiliki makna, pakaiannya menggunakan jarik, dimana jariknya itu motifnya tembakau, kemudian pemilihan warnanya, memilih warna hijau karena melambangkan kesuburan tanah di kota Jember, sehingga tanah di Jember dapat ditanami apa saja, salah satunya tembakau ini yang dapat tumbuh subur di Jember” imbuhnya.

Tari Labako Na Ogst,  memang sengaja saya buat sedemikian rupa tanpa meminggirkan tari sebelumnya karya Bagong Kusudiharjo, tari ini beraromakan tembakau mulai dari baju, ikat kepala termasuk jariknya. Menurut dia, membuat tari labaco nao’s itu tidak mudah, karena perlu dilakukan survei lapangan dengan melihat dari dekat aktifitas buruh pemetik tembakau, agar tariannya bisa tampil lebih menarik, seperti kegiatan aslinya memetik tembakau. “Alhamdulilah tarian ini sejak dimunculkan banyak diminati orang, bahkan tari labaco na’os pernah diundang ke negeri kincir angin Belanda untuk tampil,”pungkas Sulistiyowati. (Fera Dwi Aprilianti)

No Response

Comments are closed.