Lestarikan Budaya Lokal, Pemkab Kembali Gelar Seni Pandhalungan

Sebagai wujud dan konsekuensi diberlakukan Undang – undang Nomor 32 tahun 2004, pemerintah daerah berwenang untuk melakukan upaya upaya pembinaan dan pelestarian nilai nilai seni budaya.

“Dan, budaya Pandhalungan yang merupakan budaya khas yang dimiliki Kabupaten Jember perlu untuk terus dilestarikan bahkan dipromosikan, baik lokal, regional, maupun internasional,” kata Bupati Jember dr. Hj. Faida MMR., dalam sambutan tertulis yang dibacakan Plt. Sekda Ir. Mirfano.

Salah satu upaya itu, lanjut Plt Sekretaris Daerah Jember ini, yakni Pagelaran Seni dan Budaya Pandhalungan yang dihelat di Alun-alun Jember, Sabtu malam (4/11/2017).

Acara ini juga menjadi media bagi para seniman untuk menampilkan kreatifitasnya, serta kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan masukan kepada seniman.

“Dengan upaya itu diharapkan kesenian di Jember akan mampu eksis dan berkembang di tengah – tengah gempuran budaya dari manca negara,” harap bupati.

Eksistensi budaya dan kesenian khas Jember bisa menjadi daya tarik bagi bangsa lain untuk menikmati dan berkunjung ke Jember.

Bupati pun berharap seniman dan pelaku seni agar terus berkarya menunjukkan kreatifitas dan inovasinya.

“Apabila hal ini benar benar dapat terwujud, maka seni budaya Pandhalungan akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” bupati.

Bupati juga berharap pagelaran seni budaya dimanfaatkan untuk melakukan refleksi seluruh kegiatan berkesenian, sehingga refleksi ini menghasilkan ide atau konsep berkesenian lebih baik.

Pagelaran seni dan budaya itu sendiri menampilkan beragam tontonan. Mulai dari Can Macanan Kaduk, kesenian Jember yang menceritakan tradisi mengusir hewan yang mengganggu kebun tembakau.

Ada juga Bedoyo Tirto Nir Molo. Sebuah tarian yang melambang pujian kepada tuhan melalui sarana air.

Musik Patrol Jember juga tampil. Musik patrol Jember berbeda dengan musik patrol di daerah lain. Di Jember, musik patrol dikolaborasikan dengan kendang.

Tampilan menarik lainnya yakni Jaranan Ampak-ampak Kuwal Rogo Patmi. Dan sebagai penutup, tontonan menghibur dari Kentrung Jos yang mengangkat lakon Minak Jinggo Nagih Janji.

Pagelaran seni budaya itu untuk memperingati HUT Provinsi Jawa Timur ke-72, dan digelar oleh DPRD Provinsi Jawa Timur. Hadir dalam acara ini Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur yakni Miftahul Ulum, Karimullah, dan M. Eksan.

M. Eksan dalam sambutannya mengungkapkan beberapa keberhasilan yang telah dicapai oleh Pemerintahan Provinsi Jawa Timur.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur melebihi pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Eksan. Nasional tumbuh 5,01 persen. Sementara Jawa Timur sebesar 5,37 persen.

Anggaran juga mengalami pertumbuhan. Tahun 2018 anggaran untuk pembiayaan mencapai 29 triliun dan pendapatan mencapai 28 triliun. Kondisi ini meningkat dari sebelumnya yang berkisar 22 dan 23 triliun.

Menurut Eksan, cerita kesuksesan tersebut merupakan buah dari hubungan yang harmonis dalam pemerintahan, yakni Pemerintah Provinsi dan DPRD Provinsi Jawa Timur.

“Kita tidak akan bisa membangun apabila terjadi kegaduhan dimana mana. Kita tidak akan bisa membangun apabila terjadi friksi yang menghabiskan tenaga kita,” tutur Eksan.

Eksan pun berharap semua pihak meneladani hubungan harmonis pemerintahan ini untuk melakukan pembangunan. (*f2)

No Response

Comments are closed.