Jember Kota Pandhalungan

LINDUNGI TANAMAN PERKEBUNAN JALIN KEMITRAAN AKADESIS DAN SWASTA

Sebagai komoditas unggulan tanaman perkebunan perlu mendapat perlindungan  dari gangguan hama penyakit, karena itu petani hendaknya memperhatikan pemakaian pestisida atau residu khususnya tanaman tembakau.Bila residu itu kadarnya terlalu tinggi jelas akan menurunkan kwalitas tembakau itu sendiri, apalagi pasar internasional enggan menerima masuknya tembakau beresidu tinggi.Menyiasati hal itu Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pemkab Jember saat ini menggalakan pemakaian pestisida ramah lingkungan, salah satunya adalah pembuatan pestisida nabati berbahan tanaman.seperti mimba maupun gadung dan kini hal itu telah dikenalkan kepada petani agar bisa diproduksi sendiri.

Terkait hal itu Ir.Muhammad Mu’i Kasi Perlindungan Tanaman Dinas Perkebunan dan Kehutanan  Pemkab Jember mengungkapkan, selain tanaman tembakau, tanaman lain seperti kelapa, kopi, tebu, maupun kakao juga rentan terserang hama penyakit.Areal tanaman perkebunan tersebar diberbagai kecamatan, Mu’i mencontohkan, tembakau Besuki Naost banyak di jumpai di wilayah Jember bagian selatan seperti Ambulu, Wuluhan, Puger, Tempurejo, Ajung dan Jenggawah.Adapun komoditi kelapa tumbuh subur di Kecamatan Ambulu, Wuluhan, Silo dan Mayang, bahkan kelapa dari Kabupaten Jember produksinya dari tahun ke tahun kenaikannya cukup signifikan dan banyak dipasarkan ke kabupaten lain.

“Tanaman perkebunan terus kita pantau dari gangguan hama penyakit karena ini merupakan aset daerah, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pemkab Jember pro aktif menjaga tanaman tersebut agar tidak terserang hama penyakit.Berbagai upaya telah dilakukan seperti penyemprotan menggunakan pestisida ramah lingkungan, bahkan untuk mengatasi persoalan hama penyakit memilik baku teknis pengendalian tersendiri baik itu hama, penyakit maupun gulma.Kerapkali muncul pertanyaan dari petani apakah masih diperbolehkan menggunakan pestisida untuk memerangi hama penyakit?, pemakaian pestisida tidak dilarang asal sesuai anjuran dan tidak harus bergantung satu jenis merek saja,”jelas Mu’i.

Kondisi dilapangan saat ini petani menginginkan adanya pestisida yang memiliki sifat instan atau cepat bereaksi membunuh penyakit, mereka menganggap pestisida ramah lingkungan seperti pestisida nabati maupun organik dirasa hanya sekedar mengusir penyakit tanaman dan mematikan hama maupun penyakit tanaman.Tanpa disadari penggunaan pestisida cenderung berlebihan dan tidak sesuai petunjuk, akibatnya tanaman tembakau milik petani tidak layak jual karena kandungan residunya cukup tinggi .Namun demikian Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pemkab Jember semakin gencar melakukan penyadaran terhadap petani, setiap kali ada pertemuan bersama kelompok tani selalu dijelaskan dampak dari pestisida kimiawi.

“Upaya membebaskan tanaman perkebunan dari hama penyakit tidak pernah henti dilakukan oleh Dinas Perkebunan dan Kehutananan, salah satunnya menggandeng perguruan tinggi yakni Universitas Jember mengadakan sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT).Tidak hanya itu saja untuk meminimalisir hama dan penyakit tanaman perkebunan, pihak swasta juga dilibatkan seperti TTN dan Komisi Urusan Tembakau Jember (KUTJ).Berbagai terobosan pun dilakukan dalam hal pestisida ramah lingkungan, di Kabupaten Jember sudah terbentuk tim pengendali bahan agrokimia tanaman tembakau dan tim ini juga  punya standart agar pemakaian pestisida kimiawi ini tidak berlebihan termasuk berapa kali pengendaliannya selama satu musim,”imbuh Mui.(winardyasto)

No Response

Comments are closed.