Jember Kota Pandhalungan

Maksimalkan Kuliner Dari Potensi Kakao

Halaman 8 Coklat

Jember Kita. Bisnis kuliner memang selalu mendapatkan pasar yang jelas. Pasalnya, pemikiran sederhana menyebutkan, setiap orang butuh makan, jadi bisnis makanan pasti akan laku terjual. Hal itu pula yang mendasari Ardiansyah Surojo (26) untuk terjun di dunia bisnis kuliner, walaupun sebenarnya dia merupakan sarjana teknik dengan jurusan arsitektur.

            Awal mulanya, semasa kuliah dia memang sudah bergelut di bidang kuliner. Berbekal sifatnya yang memang senang jajan, dia berusaha agar bisa membuat kuliner yang pernah dia makan menjadi hal yang patut untuk dimodifikasi dan dijadikan sektor bisnisnya.

            Semasa kuliah, dia mencoba untuk membuat martabak unyil di Jember dan juga Bondowoso, padahal saat itu dia kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Namun dikarenakan tenaga ahli pembuatan martabaknya sakit keras, maka dia menghentikan sejenak usaha martabaknya sampai masa pendidikannya usai.

            “Dulu yang penting punya penghasilan sendiri. Walaupun hanya sedikit. Tetapi setelah berjalan 2 tahun, pekerja pembuat martabak saya sakit keras. Di samping itu saya fokus mengerjakan skripsi agar cepat selesai. Akhirnya 3 rombong jualan, saya tarik dan tidak berjualan sampai selesai kuliah,” kenang anak dari pengusaha kontraktor ini.

            Setelah lulus kuliah, dia memutuskan untuk bekerja menjadi seorang arsitek bangunan pada salah satu kontraktor. Namun berjalan selama satu tahun, dia memberanikan diri untuk terjun menjadi seorang kontraktor sendiri. “Satu tahun cukup bagi saya untuk menimba ilmu menjadi seorang kontraktor,” jelas pria yang akrab disapa Yayan ini.

            Dari hasil menjadi kontraktor itulah dia mengumpulkan modal untuk membuka usaha kuliner di tempat kelahirannya, di Bondowoso. Berbekal rumah dan toko (Ruko) yang berada di kawasan perkotaan Bondowoso, dia mengeluarkan modal awal sebesar Rp 30 juta untuk membuka usaha Dapur Coklat pada tahun 2012 silam.

            Konsep kulinernya berasal dari waktu dia mencicipi kuliner coklat jenis Alania Cocholava saat berada di Bandung. Namun dikarenakan harga beli kala itu mahal karena produk bertabur aneka olahan mahal, dia berkeinginan agar bisa menjual produk serupa namun dengan harga yang lebih terjangkau.

            “Waktu itu harga beli Cocholava disana (Bandung) sebesar Rp 15.000 per porsi. Saya mempunyai konsep membuat produk yang sama namun dengan harga cuma Rp 7.000 per porsi agar harga belinya bisa dijangkau oleh masyarakat,” ujarnya.

            Sebelumnya, dia juga mendapatkan permasalahan dalam persiapan bisnis coklatnya ini. Pasalnya, dia menilai karakter masyarakat (Baca; calon pembeli) Bondowoso lebih mementingkan jumlah atau porsi yang banyak dan harga yang super murah. Padahal, konsep penjualan coklatnya ini berdesain seni penyajian dan juga porsi yang minimalis.

            “Sempat ragu untuk untuk membuka bisnis ini di Bondowoso. Akhirnya, saya cari ide untuk menepis keraguan itu dengan juga “menjual” seni desain lokasi penjualan semenarik mungkin,” ujar Yayan.

            Dia menyiapkan sebuah kursi di depan ruang utama untuk berfoto foto yang berlatar belakang tulisan “Dapur Coklat”. Dengan itu, para pembeli bisa melakukan foto dan bisa mengupload di dunia maya.

            “Dengan sistem ini, pemasaran saya lebih cepat merambah di kalangan masyarakat. Dunia digital berperan penting dalam pemasaran Dapur Coklat,” tuturnya.

            Setelah sukses selama satu tahun berbisnis kuliner coklat di Kabupaten Bondowoso, dia memperluas pemasaran di Kabupaten Jember. Namun dengan kondisi kepercayaan diri yang berbeda dibandingkan dengan bisnis awal yang dia rintis.

            “Ketika melihat peluang Pasar di Jember. Saya tidak ada keraguan sedikitpun untuk memulai bisnis disini (jember). Karena daya beli masyarakat di Jember lebih tingg dibandingkan dengan di Bondowoso. Usaha ini pasti berjalan,” papar Yayan.

            Modal awal sebesar Rp 80 juta pun dia gelontorkan untuk menjalankan bisnis ini. Modal itu untuk sewa tempat, gaji karyawan, pembelian bahan baku, pemasang Wifi dan juga biaya listrik perusahaan.

            Untuk bahan baku, pihaknya telah bekerja sama dengan Pusat Penelitian (Puslit) Kopi dan Kakao di kecamatan Rambipuji yang memasok bahan baku coklat setengah jadi ke dapur Coklat. “Bisnis ini lebih berjalan baik ketika kita lebih dekat dengan sektor hulu atau pemasok bahan baku. Hasil perkebunan daerah ini yang menjamin ketersediaan bahan baku tetap terjaga,” terang Yayan.

Selain itu, kalangan mahasiwa dan juga masyarakat dengan daya beli yang tinggi di Kabupaten Jember merupakan pangsa pasar yang jelas dan menguntungkan baginya. Dari usahanya kini, dia bisa menghasilkan omzet mencapai Rp 60 juta per bulan.

Buah itu dia raih karena kegigihan dan keberaniannya mengambil keputusan dalam posisi yang sulit. Tindakan cepat membuka usaha dinilai menjadi akar dari keberlanjutan usahanya ini. Karena dia menilai, setiap konsep usaha memang mempunyai resiko kerugian.

“Dan terkadang setiap calon pelaku usaha takut karena akan menderita kerugian suatu saat nanti. Tetapi kita harus berani dan bersiap mengalami kerugian untuk awal usaha. Setelah itu, usaha akan berjalan sesuai proses yang terjadi. Disanalah kita bisa memperbaiki kinerja dari bisnis kita,” tuturnya.

Dia menambahkan, tidak ada kata takut untuk mencoba sesuatu yang bisa menguntungkan dalam dunia usaha. Kendala dalam berbisnis memang akan terjadi namun hal itu bisa diminimalisir oleh sikap kehati hatian kita dalam kegiatan bisnis yang kita jalankan.

“Saya sangat bersyukur mampu cepat mengambil keputusan bisnis di usia muda. Karena jika tidak, Dapur Coklat tidak akan pernah ada tentunya tidak akan bisa mendatangkan penghasilan seperti yang saya nikmati saat ini,” pungkasnya.

No Response

Comments are closed.