Jember Kota Pandhalungan

MASYARAKAT DAN PEMKAB JEMBER INGIN BANDARA SECEPATNYA DIBUKA KEMBALI

 

Kendati Bandara Notohadinegoro kini berumur 8 tahun dan belum dioperasionalkan sepenuhnya, bukan berarti Pemkab Jember tinggal diam tidak melakukan berbagai upaya untuk memenuhi keinginan masyarakat agar bandara tersebut bisa secepatnya difungsikan kembali.Negosiasi pun terus dilakukan oleh Pemkab Jember untuk menjalin kerjasama  dibidang penerbangan, hal itu dilakukan sejak tahun 2008 lalu dan sempat Bandara Notohadigoro didarati oleh pesawat terbang berukuran kecil melayani trayek Jember-Surabaya PP.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh wakil bupati Jember Kusen Andalas saat membuka seminar dirgantara memaksimalkan Bandara Notohadinegoro (23/9) di Hotel Panorama Jember, Kusen menyadari keberadaan bandara cukup efektif untuk mendongkrak partumbuhan ekonomi karena itu dirinya juga mengajak masyarakat khususnya pelaku usaha  untuk ikut memikirkan sekaligus memberi solusi agar Bandara Notohadinegoro tersebut tidak mangkrak dan ada ketertarikan dari maskapai penerbangan untuk membuka perwakilannya di Jember.

“Melalui seminar ini setidaknya ada sumbangsih pemikiran dari narasumber maupun peserta untuk mempercepat dibukanya kembali Bandara Notohadinegoro, masyarakat Jember berharap agar ikon Jember ini secepatnya membuka diri dan melayani jasa transportasi udara.Tidak benar jika ada tudingan diarahkan ke Pemkab Jember sengaja menelantarkan bandara ini, justru sebaliknya keinginan masyarakat sama seperti keinginanan Pemkab Jember yakni Bandara Notohadinegoro menjadi penyedia transportasi udara,”tukas Kusen.

Melalui Jember multi event ada keinginan dari pemerintah daerah setidaknya Jember menjadi salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, apalagi potensi alam kota penghasil tembakau ini tidak kalah jika dibanding daerah lain.Tidak hanya itu saja, Kabupaten Jember saat ini mulai berkembang menjadi kawasan industri dan banyak investor berkeinginan untuk menanamkan modalnya.Hal itu terlihat dari munculnya hotel baru tiap tahunnya, belum lagi pusat perbelanjaan modern dan itu semua perlu dukungan adanya sarana transportasi udara.

Sementara itu Chepy Nasution pakar penerbangan memaparkan, membuka jalur penerbangan biaya cukup mahal mahal  seperti biaya pemeliharaan pesawat terbang, pembelian bahan bakar,(BBM) belum lagi biaya kru termasuk pilot.Chepy sendiri memaklumi Bandara Notohadinegoro hanya memiliki panjang landasan 1200 meter itu artinya tidak mungkin didarati oleh pesawat terbang berbadan besar, pesawat kecil dan berkapasitas tempat duduk penumpang seperti Twin Oter ata Casa 212 layak untuk dioperasikan di Jember.

“Pesawat terbang berukuran kecil saat ini teknologinya canggih meski penumpangnya sedikit, jadi cocok sekali untuk Bandara Hadinegoro Jember ini dan sesuai panjang landasan.Bandara ini setidaknya mampu menjadi pengumpan untuk jalur penerbangan Surabaya-Denpasar dan sebaliknya, mengingat dari Denpasar orang mau ke Jember harus ke Surabaya terlebih dahulu karena tidak adanya transportasi udara dan terpaksa memakai angkutan darat jelas itu butuh waktu lama tidak secepat pesawat terbang,”tandas Chepy.

Lebih lanjut Chepy menjelaskan, penerbangan memiliki nilai minimum ekonomis jika mampu mencapai target 60 jam per bulan.Jika tidak terpenuhi target tersebut, maka maskapai penerbangan jelas merugi dan tidak bakal melayani rute itu kembali.(winardyasto)

No Response

Comments are closed.