MAWAR MERAH TINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA KARANGPRING

Lokasi Dusun Pakel Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi memang sedikit tersembunyi dari keramaian jalan raya, namun desa ini memiliki keunikan tersendiri karena secara temurun warga setempat telah puluhan tahun membudidayakan mawar merah di lahan tegalan.Berkat mawar merah ini kesejahteraan masyarakatnya mulai terdongrak naik, bahkan tanaman berduri ini bunganya banyak dicari oleh pembeli dari luar kota Jember.Tidak hanya itu saja, budidaya mawar merah ini ternyata mampu mencegah arus ubanisasi warga Desa Karangpring mencari pekerjaan bahkan mereka justru bertahan untuk tetap menjalani profesi petani bunga mawar.

Tak terkecuali Latus salah seorang petani bunga mawar merah di Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi, dirinya telah merasakan keuntungan dari bercocok tanam bunga mawar merah tersebut.Meski hanya menempati rumah cukup sederhana namun hidupnya kini diakui jauh lebih baik dari sebelumnya, disamping mampu merenovasi tempat tinggalnya, Latus juga mampu membiayai anaknya sekolah, hal ini jelas membuatnya semakin mencintai pekerjaannnya itu dan lebih mencurahkan perhatian kepada hamparan mawar merah miliknya tersebut karena tidak terlalu sulit untuk merawatnya.

“Dusun Pakel Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi ini dikenal sebagai sentra budidaya tanaman mawar di Kabupaten Jember, sebagian besar masyarakatnya keseharian disibukkan merawat mawar merah.Apalagi lahan pertanian disini cukup subur dan cocok untuk ditanami bunga  mawar, karena itutak heran bila lahan tanaman ini mencapai hektaran.Keuntungannya bisa mencapai Rp.50.000 perhari bergantung ramai tidaknya pembeli, apalagi kalau ada pesanan dari luar kota seperti Situbondo jelas keuntungannya bisa berlipat-lipat. Pengirimannya cukup sederhana, hanya diangkut pakai motor dan bunga mawar itu dikemas tas plastik (kresek-red),”ungkap Latus.

Banjir pesanan bunga mawar dari luar kota memang waktunya tidak bisa dipastikan, namun ketika permintaan itu datang, jelasnya Latus harus bekerja ekstra untuk mengemas bunga mawar itu, karena jumlahnya tidak sedikit yakni mencapai 50 bungkus tas plastik.Uniknya budidaya tanaman mawar ini beda bila dibanding tanaman lain, sekali menancapkan batang tanaman tersebut di lahan pertanian maka secara alami akan bertahan hidup bertahun-tahun.Membudidayakan mawar merah bagi Latus ternyata sangat ekonomis, pasalnya tanaman  tidak membutuhkan biaya perawatan tinggi dan pemupukan hanya dilakukan seperlunya.

“Layaknya tanaman lain mawar merah juga membutuhkan pupuk untuk mencegah penyakit, mawar hanya butuh pupuk sedikit dan bisa dipanen tiap hari secara terus menerus.Kalaupun tanaman mawar ini dipotong oleh pemiliknya maka jangka waktu kurang dari 2 bulan bisa dipetik kembali bunganya, inilah kekhususan yang dimiliki oleh mawar.Ketika tidak ada orang yang pesan maka mawar ini saya jual ke Pasar Tanjung, memang berjualan bunga mawar mawar ini resikonya cukup tinggi yakni tidak bisa tahan lama alias cepat membusuk dan akhirnya dibuang begitu saja oleh pedagangnya,”imbuh Latus.

Kendati demikian bunga mawar ini harganya bisa melonjak drastis ketika banyak permintaan, seperti menjelang bulan ramadhan ataupun hari pertama Idul Fitri , karena saat itu bunga mawar banyak diburu oleh masyarakat untuk  dibawa ke makam leluhur.Padahal dulunya mawar dari Dusun Pakel Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi ini tidak hanya sekedar untuk keperluan ziarah ke makam, tapi juga sempat dilirik oleh pengusaha untuk bahan dasar pembuatan parfum, namun entah kenapa hal itu tidak pernah lagi dilakukan.(winardyasto)

No Response

Comments are closed.