Memahamkan Pancasila kepada Anak di Era Digital

Membela negara perlu pamahaman tentang dasar negara Pancasila. Memberikan pemahaman kepada generasi muda di era digital perlu strategi.

Hal ini terungkap dalam pembekalan penguatan bela negara melalui Pancasila dalam acara Kongres Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Ada tiga narasumber yang berbicara dalam forum yang digelar di Aula PB Soedirman Pemkab Jember, Senin (12/3/2018), itu.

Para narasumber yakni Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Prof. Yudi Latief M.A., Dirjen Peraturan Perundang -undangan Kemenhumham Prof. Dr. Widodo Eka Tjahjana S.H., dan budayawan Romo Benny Susatyo Pr.

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. dalam sambutannya menjelaskan tujuan digelarnya kongres guru PPKn yang kedua itu, yakni untuk memberikan memberikan pembaharuan ilmu tentang pemahaman Pancasila.

“Guru PPKN adalah ujung tombak membangun generasi muda yang berintegritas,” ujar bupati di hadapan ribuan guru PPKn dari sekolah negeri dan swasta.

Prof. Yudi Latief M.A. menegaskan peran guru PPKn sangat penting untuk memantapkan pemahaman anak didik tentang nilai nilai Pancasila.

Pemantapan itu dilakukan dengan menceritakan kisah sejarah. Pemantapan juga melalui simbol simbol, yang lama kelamaan akan mengendap dalam jiwa anak-anak.

“Seperti contohnya pada anak jaman sekarang yang cepat mengetahui segala sesuatu dalam simbol, ikon dalam hape, logo toko, dan sebagainya,” ujar Yudi Latief.

Pemahaman Pancasila diimplementasikan dalam 3 lapis dimensi, keyakinannya pnegetahuan, dan tindakan.

Keyakinan nilai nilai pancasila harus ditanamkan kepada anak didik. Demikian juga dengan pengetahuan Pancasila, juga tindakan yang mengacu pada Pancasila.

Romo Benny Susatyo Pr. menjelaskan bagaimana caranya guru PPKN membumikan Pancasila di era digital.

Romo Benny menyontohkan pemberian tugas pada anak didik dengan membuat meme Pancasila yang diviralkan di sosial media, pembuatan video youtube bela negara.

Ia juga menekankan pola pendidikan guru menjadi rekan murid, bukan menjadi pawang atau mentor, akan mengubah paradigma atau cara pandang pendidikan.

“Sistem pembelajaran baru diperlukan sehingga anak memiliki daya kreatif dan inovatif,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Widodo Eka Tjahjana S.H. berharap guru mampu mengambil referensi yang akurat dalam memberikan informasi terkait Pancasila.

Meluruskan sejarah tentang Pancasila menjadi tanggung jawab bersama. “Kita tidak mungkin melakukan pembelaan terhadap negara, jika kita tidak memahmi Pancasila yang sebenarnya,” ujar Prof. Dr. Widodo Eka Tjahjana S.H. (mutia/*f2)

No Response

Leave a reply "Memahamkan Pancasila kepada Anak di Era Digital"