Jember Kota Pandhalungan

Mencari Ilmu Di Balik Dedaunan

175 views

Sekolah LedokomboJember Kita. Pagi itu taman belajar Tanoker nampak ramai, kesibukan terlihat disana sini. Terlihat beberapa anak tengah asyik dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Ada yang mendengarkan penjelesan para pengajarnya, ada juga yang membaca buku, serta berdiskusi dengan teman-temannya. Mereka terlihat begitu menikmati aktivitas yang dijalankan, yakni mencari ilmu di bawah rerimbunan pepohonan.

Tanoker, adalaha nama lain dari Kepompong (bakal Kupu-Kupu), yang diambil dari Bahasa Madura. Nama ini sengaja digunakan oleh Cicik Farhat, peminat pendidikan, untuk komunitas yang dibentuknya, karena keanggotaannya hanya berasal dari kalangan anak-anak.

Di komunitas ini, Cicik tidak hanya memasukkan permainan tradisional Egrang untuk dimainkan, tapi juga ada kegiatan lain yang lebih diutamakan, yakni belajar. Uniknya, komunitas ini lebih memilih belajar di alam terbuka.

Sisi lain yang tidak kalah menariknya untuk dilihat dan dinikmati dari komunitas ini adalah, Minggu Ceria. Minggu ceria merupakan salah satu program belajar bersama, jika kebanyakan belajar selalu identik dengan ruang kelas, namun tidak dengan Tanoker. Program minggu ceria biasanya dilakukan di taman belajar Tanoker.

Program tersebut dinamakan Minggu Ceria karena dilakukan setiap hari minggu. Mungkin bagi sebagian besar anak-anak yang bersekolah, hari minggu adalah hari yang paling  ditunggu untuk berlibur, setelah 6 hari lamanya mereka belajar di sekolah.

Namun berbeda dengan anak-anak di Tanoker Ledokombo, mereka manghabiskan hari Minggu untuk beraktivitas bersama teman-teman dari seluruh desa di Kecamatan Ledokombo di kebun Tanoker. Mereka berkumpul untuk belajar, bermain serta berlatih bersama-sama setiap hari Minggu.

Kegiatan ini dimulai setiap minggunya dari jam 08.00 WIB dengan melakukan senam pagi bersama. Setelah itu mereka belajar beberapa mata pelajaran, seperti Matematika GASING, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam, dan pelajaran lainnya.

Tidak seperti kegiatan di sekolah, pada kegiatan Minggu Ceria, anak-anak belajar di alam terbuka. Pemberian materi pelajaran pun diberikan dengan cara yang menyenangkan, seperti permainan ataupun dengan bernyanyi bersama. “Semua orang adalah guru dan alam raya adalah sekolah, Ia terinspirasi dari lagu karangan Yayak, baginya proses belajar tidak harus dilakukan di ruang kelas saja, bisa di alam terbuka, agar anak-anak tidak jenuh dan merasa nyaman saat belajar,” ujar Farha Cicik, Pembina Komunitas Tanoker.

Pada kegiatan Minggu Ceria, anak-anak juga bisa saling berdiskusi atau belajar tentang ilmu kesehatan, komputer, dan kesenian yang diberikan oleh mahasiswa-mahasiswa atau tamu yang datang setiap minggu di Tanoker. Selain belajar, anak-anak juga bermain serta berlatih Egrang bersama-sama. bernyanyi atau sekedar menabuh Djimbe dan bermain gamelan kerap di lakukan anak-anak di Tanoker Ledokombo.

Kegiatan ini dilakukan, agar anak-anak tidak merasa jenuh setelah selama 6 hari belajar materi pelajaran di sekolah. Anak-anak juga disediakan kolam renang kecil untuk sekedar bermain air atau menyegarkan diri setelah belajar.  Uniknya tiket untuk mandi atau nyemplung adalah anak-anak diwajibkan membaca buku di perpustakaan. Hal ini dilakukan untuk merangsang atau meningkatkan minat anak-anak untuk membaca.

Di Kecamatan Ledokombo, tercatat sekitar 2094 penduduknya di 7 desa tergolong Buta Aksara. Dengan alasan tersebut, Tanoker Ledokombo menggiatkan kegiatan membaca pada anak-anak. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan kecil Tanoker juga tergolong beragam. Buku-buku tersebut sebagian besar adalah sumbangan dari sahabat Tanoker yang ada diseluruh pelosok Indonesia. (Ve)

No Response

Comments are closed.