Jember Kota Pandhalungan

Mendunia Berkat Julukan Kota Festival Cantik

JFC-2Jember Kita. Permainanan tradisional sempat mengalami masa kejayaan di Indonesia kendati saat ini mulai terpinggirkan akibat perkembangan teknologi, namun demikian masih ada saja kelompok masyarakat peduli terhadap permainan ini dan berusaha untuk mempopulerkan kembali permainan tersebut. Tengoklah Kecamatan Ledokombo, salah satu kecamatan di wilayah utara Kabupaten Jember, kini dikenal publik sebagai tempat pengembangan permainan tradisional egrang.

Di Kecamatan Ledokombo sendiri bahkan setiap tahun diadakan kegiatan festival egrang, yang tahun 2014 ini festival tersebut sudah memasuki tahun kelima. Iktikad baik untuk mengembalikan pengembalikan keberadaan permainan tradisional sebagai jatidiri bangsa ini, mendapat acungan jempol dari Ayu Sutarto, budayawan nasional asal Jember.

Dosen fakultas sastra Universitas Jember tersebut merasa prihatin melihat kecenderungan permainan tradisional mulai terpinggirkan. Langkah Universitas Jember mengadakan lomba permainan tradisional untuk kalangan pelajar merupakan angin segar menggairahkan hal-hal bersifat tradisional, karena itu warisan budaya bangsa yang ada perlu perdikenalkan kembali kepada masyarakat luas.

“Permainan tradisional adalah warisan tak benda di Indonesia, karena itu wajib dipertahankan. Permainan tradisional seperti ini tidak sekedar untuk dilombakan, lebih dari itu diharapkan mampu menumbuhkan kebanggan kepada produk budaya bangsa. Semakin sering lomba semacam ini diadakan, jelas berdampak positif, tidak untuk Jember saja dan Jawa Timur tapi juga untuk Indonesia. Saat ini Kabupaten Jember mendat julukan kota festival cantik karena berhasil memadukan unsur tradisional maupun modern, egrang  atau tanoker berbau tradisional dan Jember Fashion Carnival (JFC) mewakili unsur modern,”ungkap Ayu.

Ayu juga memandang permainan tradisional juga mengandung kearifan lokal, kebudayaan lokal maupun identitas lokal, karena permainan tradisonal memiliki ajaran positif seperti mengedepankan kebersamaan dan kerukunan. Melalui permainan tradisional membangun kerukunan bangsa bisa dimulai dari fase anak-anak, hal ini tidak terlihat sama sekali di permainan modern. Permainan tradisional mendidik seseorang untuk berbuat jujur dan tidak curang, jika itu tidak diindahkan maka sanksi sosial berupa pengucilan akan diberikan oleh teman sepermainan.

“Permainan tradisional bukan permainan prestasi seperti sepakbola namun merupakan permainan menghibur, karena itu tak heran jika egrang atau tanoker, hulahop dan yoyo itu ada dimana-mana. Sekarang bergantung mengemas permainan tersebut dan bisa menjadi sebuah industri kreatif, egrang jika dikemas sedemikian rupa bakalan terlihat lebih menarik dan itu dilakukan jika unsur budaya setempat diikutsertakan seperti kostum maupun lagu daerah.Luarbiasa sekali kota kita tercinta ini mampu menempatkan egrang sebagai salah satu ikon, egrang Ledokombo itu  kini diakui oleh dunia internasional,”imbuh Ayu.

Sementara itu Maria Sri Rahayu mahasiswa S-2 Udayana Bali jurusan kajian budaya saat ditemui di lokasi permainan tradisional di Gedung Soetarjo mengatakan, permainan tradisional seperti tanoker Ledokombo mengilhami Sri untuk melakukan penelitian. Dibanding kota lain di Pulau Jawa, Kabupaten Jember permainan tradisional bisa tumbuh subur dan mengalami kemajuan luarbiasa, kendati egrang juga dipunyai oleh kabupaten lain namun tidak seperti di kota suwar-suwar ini dan ada keinginan dari sekolah untuk memasukan egrang sebagai kegiatan ekstra kurikuler.

“Tidak menutup kemungkinan di Indonesia suatu saat tanoker menjadi sebuah kurikulum tersendiri untuk pembentukan karakter bangsa, karena itu permainan ini bisa dijadikan acuan pemerintah untuk mewujudkan hal itu. Saya menilai Kabupaten Jember sukses mengelola tanoker, meski permainan tradisional itu sebatas dilirik oleh anak-anak dan remaja kurang tertarik untuk mempelajari dan lebih cenderung memilih play station (PS) sebagai pilihan,”ungkap Sri. (winardyasto).

No Response

Comments are closed.