Jember Kota Pandhalungan

Mengkaji Ulang Hari Jadi Jember

575 views
Sanak Pangilanku (1088 M)

Foto : Indra,  Tulisan di Prasasti Congapan, Sumberbaru terbaca Tlah Sanak Pangilanku (1088 M)

Jember Kita. Silang pendapat tentang hari jadi Pemerintah Kabupaten Jember, yang selalu diperingati setiap tanggal 1 Januari, akhirnya mengundang Harian Radar Jember untuk mengumpulkan para pihak yang punya kepedulian terhadap sejarah Jember. Radar Jember, hari Kamis, 4 Desember 2004 lalu, memfasilitasi elemen masyarakat, termasuk akademisi dari Fakultas Sastra/Sejarah Universitas Jember, untuk mendiskusikan sejarah Jember melalui Forum Diskusi 99 di aula Bedadung, Radar Jember.

Hadir dalam acara itu, Kepala Bapekab Jember, DR H Edi Budi Susilo, Budayawan Prof Ayu Sutarto, Dosen Fakultas Sastra/Sejarah, DR Retno Winarni, Drs Edi Burhan Arifin SU, Drs Parwoto, M.Hum, Drs Nurhadi Sasmita, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan di Jember, Drs Didik Purbandrio, Komunitas Saptaprabu, serta beberapa pemerhati sejarah di Kabupaten Jember.

Diskusi yang dipandu Heri Setiawan, Pemred Radar Jember, berjalan cukup hangat. Masing-masing peserta, berusaha memaparkan data yang dimiliki berkaitan dengan Jember masa lalu. Diantara mereka, ada yang tidak sependapat kalau Hari Jadi Jember didasarkan atas catatan Pemerintah Hindia Belanda (Nerlando Centries), karena itu perlu dilakukan kajian ulang yang lebih mengedepankan versi ke Indonesiaan.

 PA-RVVA-TE-SVA-RA atau Dewa Agung

Foto :Indra, Tulisan di Prasasti Watu Gong, Rambipuji, terbaca PA-RVVA-TE-SVA-RA atau Dewa Gunung , (abad 5 M)

Kepala Bapekab DR H Edi  Budi Susilo, M.Si, dalam sambutannya mengatakan, bahwa acara diskusi yang digelar di Harian Radar Jember, pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan masyarakat atas kejelasan sejarah Jember itu sendiri. Sebab itu, diskusi merupakan jawaban yang tepat untuk menjawab kegalauan yang dirasakan masyarakat terhadap sejarah Jember, yang selama ini lebih mengacu kepada versi kolonial Belanda.

Melalui forum dikusi itulah, Edi berharap ada persamaan persepsi soal penetapan Hari Jadi Jember, sehingga di kemudian hari tidak ada lagi silang pendapat sebagaimana Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Jember, yang didasarkan atas staatblad 322, tanggal  1 Januari 1929. “Melalui forum ini, mudah-mudahan ada kesamaan pandangan, kesamaan persepsi, untuk menetapkan hari jadi Kabupaten Jember. Setelah ini kita berharap ada penelitian labih lanjut,“  ujar Edy.

Di lain sisi, Pro Ayu Sutarto, dalam keterangannya mengatakan, sudah seharusnya bangsa ini lebih mengedepankan ke Indonesia-annya. Artinya, penggunanaan catatan pemerintah colonial untuk menentukan hadi jadi Jember, sudah seharusnya ditinjau ulang, dengan lebih mengedepankan versi ke-Indonesia-an, yang bisa menumbuhkan semangat kebangsaan dan tidak sekadar hanya kebanggaan lokal.

Indra G Mertowijoyo, pemerhati sejarah Jember, yang turut hadir dalam acara diskusi tersebut, memapar, sebenarnya cukup banyak yang bisa dijadikan acuan untuk menentukan hari jadi Jember. Dari catatan tertua yang ada, yakni Prasasti Watu Gong, yang menurut ahli epigrafi India, berasal dari abad ke 5 M, atau menurut Stautterheim berasal dari abada 6-7 M, serta Prasasti Congapan, dengan sengkalan Tlah Sanak Pangilanku, yang oleh Sartono Atmojo, dibaca tahun 1010 Saka atau 1088 Masehi, menunjukkan bahwa Jember pada dasaranya sudah cukup tua.

Adanya prasasti itu menunjukkan bahwa Jember, sudah sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun silam, sudah ada komunitas masyarakat yang mapan.

“Data yang bisa dipakai sebenarnya tidak hanya itu, hari jadi Jember bisa mengacu pada peristiwa Perang Sadeng tahun 1331, atau berdirinya Kerajaan Blambangan di bawah Prabu Tawang Alun di daerah Kuta Dawung, Desa Tegal Wangi, Kecamatan Umbulsari,” imbuh Indra, yang juga Pemred Majalah Jember Kita. (Ch3ru).

No Response

Comments are closed.