Menteri Yohana Tertarik Kuliner Tradisional Jember

Ketertarikan aneka kuliner tradisional Jember, khususnya makanan ringan atau sejenis jajan pasar, diungkapkan Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pada saat menikmati sajian makan malam di Pendapa Wahya Wibawa Graha, Jumat (22/9/2017) malam.

Perempuan pertama asal Papua yang menduduki posisi menteri di Kabinet Kerja Jokowi-JK ini mengungkapkan bahwa makanan yang disajikan sangat enak dan unik-unik. “Ini menarik dan enak, bisa kita minta pembuatnya ke Papua untuk mengajari perempuan disana membuat kue seperti ini,” ucapnya di hadapan Bupati Jember, dr. Hj. Faida MMR.

Pernyataan menarik itu langsung direspon oleh Bupati Jember, dengan mengiyakan dan menyanggupi perlunya para pembuat kue berangkat ke tanah Papua, agar bisa menularkan cara membuat bermacam kue tradisional sesuai dengan keinginan Menteri Yohana atau biasa dipanggil Mama Yo.

Ketertarikan Mama Yo terhadap kue tradisional Jember tidak berhenti pada saat jamuan makan malam di Pendapa saja. Sabtu (23/9/20017) siang di kawasan Tanoker Ledokombo, Mama Yo terlihat nikmat mencicipi berbagai kue yang ada, sambil mendengarkan penjelasan ibu-ibu setempat menerangkan cara membuat kue dan bahan-bahan kue itu sendiri.

Mama Yo takjub ketika dijelaskan beberapa kue dibuat murni dari bahan alami non kimia, seperti dari tepung beras, singkong, dan makanan polo pendem lainnya. “Ini berapa jam bikinnya, bahannya ada kimianya atau tidak ?” tanyanya. Dengan sigap sejumlah perempuan menjelaskan semua tanpa bahan kimia, murni alami dan ada yang cepat dimasak tapi ada juga yang lama, seperti kue lapis bisa berjam-jam untuk bisa dinikmati.

Kreatifitas perempuan dan masyarakat Desa Ledokombo memanfaatkan kegiatan Komunitas Tanoker yang sudah mendunia cukup positif. Banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan warung-warung makanan, souvenir dan lainnya menjadi lebih maju karena adanya Tanoker.

“Sekarang bisa dirasakan mas… perekonomian masyarakat sini meningkat, karena banyak turis dari luar maupun dalam negeri yang kesini, termasuk kunjungan pejabat-pejabat,” ujar Junaedi salah satu pemilik warung di sekitar Tanoker.

Bukan hanya itu, keberadaan Tanoker juga sangat membantu masyarakat di bidang buruh migran. Banyak TKI/TKW yang mengalami masalah di luar negeri dibantu dan diselesaikan masalahnya hingga bisa kembali ke tanah air.

Junaedi dan masyarakat Desa Ledokombo berharap hal positif itu bisa semakin meningkat dan berlangsung terus menerus, hingga masyarakat Ledokombo bisa betul-betul maju.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Arief Tjahyana mengungkapkan tren pariwisata saat ini merujuk pada basis komunitas (community based tourism). Seperti komunitas Tanoker di Kecamatan Ledokombo dengan festival egrang yang diselenggarakan setiap tahun. Tahun ini gelaran ke-8 sejak pertama dihelat tahun 2010.

Pemerintah, lanjut Arief Tjahyana, tidak bisa mengambil alih. Pemerintah mempunyai fungsi tersendiri. “Pemerintah mempunyai fungsi pembinaan, fasilitasi, dan promotif. Tidak boleh pemerintah mengambil alih,” ujarnya di Ledokombo.

Saat diserahkan kepada komunitas di masyarakat, pariwisata tersebut terus bertumbuh. Seperti makanan yang disajikan di Festival Egrang 8 yang semuanya berasal dari masyarakat Ledokombo. Efek pariwisata berbasis komunitas ini sangat beragam. (*f2/Izza)

No Response

Comments are closed.