Jember Kota Pandhalungan

Merajai Pasar Ekspor Delapan Belas Tahun

Tak heran jika tape Sumbermadu Sae bikinan Joko Winarto warga Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari itu sempat bertahan selama delapan belas tahun,

Tak heran jika tape Sumbermadu Sae bikinan Joko Winarto warga Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari itu sempat bertahan selama delapan belas tahun,

Koloni Inggris yakni Hongkong ternyata menjadi jujugan empuk bagi produsen tape Sumbermadu Sae, pasalnya tape dari Kabupaten Jember berbahan dasar singkong kuning tersebut laris manis bak kacang goreng.Tak heran jika tape Sumbermadu Sae bikinan Joko Winarto warga Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari itu sempat bertahan selama delapan belas tahun, rahasia sukses tersebut tidak terlepas dari kelezatan rasa tape Sumbermadu Sae itu sendiri.Tidak hanya manis, dipilihnya singkong kuning membuat tape ini lebih empuk ketimbang lainnya.

Joko membenarkan hal itu, dirinya memulai usaha pembuatan tape Sumbermadu Sae sejak tahun 1984.Awalnya hanya berupa kelompok belajar usaha bentukan dari dinas pendidikan, bermodalkan Rp.150.000 Joko mengawali peruntungan melalui home industri tape.Sejak saat itu tape made in Desa Sumberpinang mulai menggeliat dan produksinya mampu mencapai 1000 besek tiap minggunya, apalagi saat itu jumlah produsen tape singkong masih sedikit di Kabupaten Jember.Bisnis Joko pun semakin moncer dan berkibar, tidak hanya mampu memenuhi pasar lokal saja tapi juga pasar ekspor.

“Ekspor tape ke Hongkong mulai  tahun 1992 sampai 2010 dan tiap hari sabtu pagi kirim 300 besek, masyarakat Hongkong ternyata suka sekali makan tape apalagi ketika musim dingin tiba karena diyakini mampu menghangatkan badan.Singkong kuning didatangkan langsung Kecamatan Mayang dan Kecamatan Silo, mulai awal merintis pembuatan tape Sumbermadu Sae hingga sekarang tidak pernah memakai singkong jenis lainnya. Hal itu sengaja dipertahankan dan menjadi ciri khas dari tape Sumbermadu Sae, tak heran jika tape ini masih digemari oleh masyarakat,”ujar Joko.

Joko juga menceritakan, kesuksesannya memasarkan tape ke Hongkong berkat jalinan kemitraan antara dirinya dan seorang eksportir di Pasuruan.Bagi Joko mampu menembus pasar luarnegeri adalah bagian dari mimpinya, peluang itu jelas tidak disia-siakannya dan menjaga citarasa tape Sumbermadu Sae adalah komitmennya.Sejak tawaran ekspor diterimanya, aktifitas Joko pun semakin meningkat apalagi tiap hari dia  harus mengajar olahraga di SMPN 1 Pakusari namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk mengelola usahanya.

“Waktu itu karyawan disini terlihat sibuk manakala mendekati hari pengiriman tape ke Hongkong, mereka juga bekerja siang malam untuk memenuhi target permintaan pasar ekspor.Tape Sumbermadu Sae tidak ingin dikomplain oleh pelanggan karena itu kwalitas rasa tetap terjaga, tak heran jika tape ini diminati selama puluhan tahun oleh masyarakat Hongkong. Harga per beseknya Rp.2500 dan dikirim ke Pasuruan menggunakan jasa pengiriman barang, kemudian diterbangkan ke Hongkong melalui Bandara Juanda, “jelas Joko.

Kendati kini untuk sementara waktu Joko tidak melempar tapenya ke pasar ekspor dikarenakan belum ada kesepakatan baru dari ekportir lainnya, bukan berarti tape Sumbermadu Sae jalan ditempat, malahan justru tape tersebut tetap saja dilirik oleh  pembeli.Kenaikan harga Rp.500 per besek  tidak terlalu dikeluhkan oleh pelanggan tape bikinan Joko, justru usaha tape miliknya semakin menggurita.Gerai penjualan oleh-oleh khas Jember di Jl.Gajahmada milik Joko tidak pernah lengang, bahkan mereka juga kebanyakan datang dari luar kota sengaja mampir membeli tape buat oleh-oleh.
“Tidak lama lagi tape Sumbermadu Sae ini bisa didapatkan di lokasi Rest Area Jubung, sambil bersantai ditempat tersebut bisa membeli oleh-oleh khas Jember yakni tape.Sumber Madu Sae tidak hanya memproduksi tape besekan dan tape kiloan tapi juga suwar-suwir, karena ada diantara pelanggan mengemari permen tape alias suwar-suwir ,”pungkas  Joko sembari tersenyum.(winardyasto)

No Response

Comments are closed.