Campak Rubella

NELAYAN PUGER, PENAKLUK OMBAK PANTAI SELATAN

Matahari belum begitu tinggi, tetapi sengatannya sudah kuat terasa. Angin lembab pantai yang bertiup sedikit kencang dan panas matahari tidak menyurutkan keramaian yang terjadi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Pedagang ikan tampak dikerumuni calon pembeli. Berbagai jenis ikan, seperti tongkol, tuna, lemuru, pari, kepiting, dan cumi-cumi berbaris rapi dalam basket (keranjang, red) yang terbuat dari bambu. Lalu lalang ABK yang baru pulang melaut di sela-sela teriakan pedagang yang menawarkan ikannya menjadi tontonan interaksi ekonomi yang menarik pagi itu.

Tak jauh dari TPI, mesin tempel kapal jukung menderu, membawa tiga orang penumpangnya merapat di bibir muara. Sementara itu sekelompok perempuan mengenakan caping dan jas hujan berwarna warni telah menanti kapal jukung tersebut. Setelah agak mendekat ke tepi, nelayan jukung memberikan kode, memanggil mereka untuk nyocoli [1] jaring yang sarat akan lemuru. Sekelompok perempuan itu pun nyebur, bergulat dengan lumpur dan air muara setinggi pinggang. Dengan cepat dan sigap, mereka pun mengambil ikan-ikan di jaring, kemudian meletakkannya dalam keranjang plastik berukuran besar.

Di tepi muara, pengambe’[2] sudah siap untuk melakukan penawaran kepada pemilik kapal. Tak perlu menawar terlalu lama, keranjang-keranjang ikan sudah berpindah tangan. Keranjang tersebut diangkut manol (kuli angkut, red) untuk ditimbang di TPI, kemudian dibawa ke tempat pengambe’.

Ada kalanya pengambe’ ini, tidak hanya menunggu datangnya kapal untuk membeli ikan. Tapi juga memberikan pinjaman modal kepada pemilik kapal dengan kompensasi hasil tangkapan ikan yang didapat oleh nelayan, akan diambil oleh pengambe’.

Begitulah gambaran sekitar TPI Puger setiap hari, tempat para penakluk ganasnya ombak laut selatan merapat. Para nelayan Puger memang terkenal pemberani. Bagi mereka pantai selatan adalah tambang raksasa, tempat sandaran hidup dengan kekayaan melimpah. Ganasnya ombak laut selatan merupakan tantangan untuk menjemput rezeki. Ya, para nelayan ini memang tidak pernah takut pada kematian. Mereka hanya takut keluarga mereka kelaparan. Seperti yang diceritakan Rasidi, seorang nelayan kapal jukung. Setiap hari dirinya pergi ke laut untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Ombak besar itu sudah biasa. Kalau saya tidak ambil rezeki di laut, keluarga saya bisa tidak makan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dalam kesehariannya, Rasidi menebar jaring, mencari ikan lemuru di laut selatan. Jika peteng bulan[3], ia berangkat selepas isya’ karena ikan banyak terjaring sekitar pukul 10 hingga 11. Sedangkan jika padhang bulan[4], ia berangkat setelah subuh karena lemuru lebih banyak terjaring siang hari.(*)



Download Logo HUT RI 72
No Response

Comments are closed.