Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

NIKMATNYA PECEL GARAHAN, SENIKMAT KEUNTUNGANNYA

Di Jember, kita dapat menikmati beragam kuliner, mulai dari makanan khas, jajanan pasar, beraneka ragam  minuman,  hingga makanan yang terbilang masih sangat tradisional, namun masih banyak  diminati,  seperti nasi pecel.

            Nasi pecel memang banyak  dijual di Jember, mulai dari pecel yang dijual di pasar, , warung-warung,  pedagang kaki lima, hingga nasi pecel yang di jual di restauran mewah sekalipun, semuanya tetap menarik  perhatian warga untuk  membelinya. Terlebih para pedagang nasi pecel yang berada di Desa Garahan.

            Pedagang nasi pecel di  desa ini memang sudah dikenal banyak  orang, mulai dari warga jember sendiri, hingga para pelancong dari luar kota. Rasanya yang khas, membuat siapa saja yang menikmatinya merasa ketagihan.

            Selain itu, yang lebih membuat pecel ini benar-benar masih menjaga ketradisionalannya adalah nasi pecel tersebut dibungkus dengan menggunakan daun pisang, dengan cara di pincuk, “nasi pecel ini memang sengaja dipincuk, karena kalau dengan daun itu lebih terasa enak, lebih alami, itu yang khas dari pecel garahan, banyak orang yang bilang pecel pincuk garahan”, ujar Ibu Yoga , yang telah 15 tahun menjalani profesinya sebagai penjual pecel.

            Tak hanya ibu yoga saja, masih banyak juga para ibu rumah tang di desa garahan yang berprofesi sebagai penjual nasi pecel, “Disini kan banyak ini ada sekitar 30 orang yang berjualan, ini asli penduduk daerah sini, mmayoritas penduduk disini ya beerja ini penjual nasi pecel ini”tegasnya.

            Setiap harinya para pedagang pecel itu berjualan disekitar stasiun Garahan, biasanya mereka datang pada jam disaat kereta akan lewat , karena pada saat itulah para pedagang pecel garahan ini bisa menjualnya pada para penumpang kereta api.

            Dalam sehari, dagangan tiap pedagang pecel tersebut bisa laku hingga 30 bungkus dengan harga Rp.3000,-/bungkusnya.namun jika hari-hari libur, atau hari besar, dagangannya bisa laku hingga 2 kali lipat, hal itu diakui lilik, pedagang pecel pincuk  Garahan, “kalau libur ya bisa sampai 60 bungkus, kan penumpang kereta banyak, jadi lakunya juga namyak”, jelasnya.

            Diakui lilik, selain berjualan di stasiun Garahan, liliko bersama seluruh rekannya juga berjualan di jalan raya dengan membuka warung-warung, “kalau jam kereta datang, ya berjualan disini, kalau keretanya sudah berangkat kita berjualan di warung- warung, missal kereta pagi ya kita kesini, nanti kembali lagi ke warung”, ujarnya.

            Pecel pincuk garahan memang telah dikenal banyak orang, bsnysk pelancong yang sengaja mampir untuk menikmati pecel pincuk ini, seperti Amri, “Saya biasanya kalau mau pulang ke Banyuwangi selalu mampir kesini untuk makan pecel pincuk, rasanya enak, cara mengemasnya juga masih tradiosional, jadi saya sangat suka sekali”, tegasnya.

No Response

Comments are closed.