Jember Kota Pandhalungan

OGOH-OGOH TAMPIL LUAR BIASA DI TAJEMTRA

Pelaksanaan gerak jalan tradisional Tajemmtra 2013 Sabtu (28/11) berlangsung meriah, tidak hanya pesertanya lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya namun tidak sedikit dari mereka peserta gerak jalan ini tampil kreatf.Seperti peserta dari Desa Sidomekar Kecamatan Semboro mengusung boneka raksasa itu sempat menyita perhatian penonton sepanjang jalur 31 km, ogoh-ogoh itu sendiri cukup unik tidak hanya dari ukurannya tapi juga kostum boneka tersebut bernuansakan Bali yakni mengenakan sarung bermotif kotak-kotak hitam dan putih.

Dikatakan oleh  Samsuri pimpinan rombongan dari Desa Sidomekar Kecamatan Semboro, pembuatan ogoh-ogoh tersebut memakan waktu sepuluh hari dan pembuatan  boneka tersebut memakan biaya Rp.3.500.000 hasil swadaya murni masyarakat desa setempat.Dikatakan oleh Samsuri, tercatat tiga kali ini warga Desa Sidomekar tersebut mengusung ogoh-ogoh di ajang gerak jalan Tanggul-Jember.Kendati cukup berat dan harus didorong oleh orang banyak, ogoh-ogoh itu akhirnya sampai juga ke garis finish di alun-alun Jember.

“Ogoh-ogoh ini merupakan kesenian tradisional dari Pulau Dewata dan sejak tahun 2011 sengaja ditampilkan oleh masyarakat Desa Sidomekar Kecamatan Semboro di gerak jalan Tajemtra.Membuat ogoh-ogoh ini cukup sulit dan kalau tidak memiliki jiwa seni jelas tidak bisa mengerjakannya, khususnya untuk membentuk wajah ogoh-ogoh perlu ketrampilan tersendiri.Tinggi ogoh-ogoh ini 3,70 meter dan ketika malam hari boneka raksasa ini matanya bisa menyala merah, biar tampilan ogoh-ogoh tersebut lebih menarik dan kelihatan sangar,”ujar Samsuri.

Di gerak jalan Tajemtra 2013 ini, rombongan peserta dari Desa Sidomekar Kecamatan Semboro itu berjumlah 75 orang, mereka tampak terlihat bersemangat sejak dari garis start alun-alun Tanggul kendati matahari bersinar terik.Sepanjang perjalanan ogoh-ogoh itu mendapat apresiasi potif dari masyarakat, tak heran jika ogoh-ogoh ini menjadi obyek foto bagi penonton.Samsuri juga mengatakan, ogoh-ogoh hasil karya masyarakat Desa Sidomekar Kecamatan Semboro tersebut juga merupakan upaya untuk melestarikan budaya bangsa.

“Tidak hanya ogoh-ogoh dari Desa Sidomekar Kecamatan Semboro tadi juga ada tampilan Hanoman dan suku Asmat Papua, jelas ini menarik sekali karena Tajemtra tidak hanya sekedar olahraga menyehatkan, lebih dari itu juga ada nuansa bhineka Tunggal Ika dan itu patut diacungi jempol.Ide dari peserta untuk tampil beda dan menampilkan sesuatu berniliai seni akan memberi nilai tambah gerak jalan Tajemtra ini, apalagi gerak jalan tradisional tersebut  adalah ikon Jember dan tiap tahunnya selalu dinantikan oleh masyarakat luas,”tukas Samsuri.

Menjelang garis finish ogoh-ogoh ini tetap saja dielu-elukan oleh penonton dan tak jarang mereka meminta ogoh-ogoh tersebut dihentikan sejenak, rupanya penonton tertarik untuk foto di depan boneka raksasa itu.Kendati tiap tahun Desa Siomekar memunculkan ogoh-ogoh, namun boneka tersebut sengaja warnanya tidak sama setiap kali meramaikan gerak jalan Tajemtra.Ekspresi penonton terlihat kagum dan heran melihat ogoh-ogoh diantara ribuan peserta gerak jalan tersebut, apalagi jarang sekali ogoh-ogoh ini dijumpai  di Jember.(winardyasto)

No Response

Comments are closed.