PAKDE KARWO CANANGKAN DESA SUCI, PANTI, SEBAGAI DESA KONSERVASI ALAM JAWA TIMUR

Pencanangan Gerakan Desa Pelindung Sumber Daya Alam dan Pengukuhan Penyuluh Konservasi Kawasan Perdesaan dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur, DR. H. Soekarwo, hingga ke pelosok pedesaan. Desa Suci, Kecamatan Panti, Kab Jember merupakan salah satu kawasan yang dicanangkan sebagai kawasan konservasi di wilayah timur propinsi Jawa Timur ini. Hal ini mengingatkan keadaan geografis Kecamatan Panti secara khusus di Kabupaten Jember yang dinilai sangat rawan bencana.

Penyelenggaraan Pencanangan Desa Konservasi ini sendiri dilakukan oleh Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan (Kapal), yang diketuai langsung oleh Suparto Wijoyo, 16/2. Begitu setibanya di Desa Suci, Pakde Karwo (sapaan akrab Soekarwo), yang didampingi juga oleh sang istri, Hj. Nina Soekarwo beserta seluruh jajaran pejabat Pemprop. Jatim bersama dengan Sekda Jember, Sugiarto, serta beberapa pejabat SKPD Pemkab Jember ini, disambut meriah oleh banyak orang, termasuk para Kyai dan Ulama di wilayah Desa Panti, serta siswa-siswi SD dan SMP.

Dalam sambutannya  Pakde karwo mengajak masyarakat untuk menjaga  40 sumber mata air  yang ada di Desa Suci, Kecamatan Panti sebagai sumber kehidupan masyarakat semua. “Mari semua menjaga sumber mata air ini, jika tidak peduli dengan lingkungan sekitar kta sumber mata air ini ke depan bisa habis dan menimbulkan bencana,” tuturnya.

Pakde Karwo sendiri juga meminta kepada seluruh masyarakat juga diajak menjaga lingkungan. Apalagi,  Desa Suci mempunyai sejarah bencana banjir dan longsor pada tahun 2006 yang lalu. “Tahun 2006, Desa Suci pernah dilanda oleh banjir bandang yang menelan ratusan korban, baik itu manusia maupun harta. Untuk itu, saya mengajak semua pihak agar menanggapi bencana tersebut sebagai lencana yang selalu mengingatkan kita agar senantiasa menjaga ekosistem alam,” tandasnya.

Pakde Karwo berpesan agar 40 mata air di Desa Suci dijaga. Karena mata air itu menjadi sumber kehidupan warga setempat. Ia mengharapkan masyarakat untuk menjaga keberadaan mata air yang ada di Jawa Timur. Salah satu bentuk menjaga keberadaan mata air yakni dengan jalan menjaga kondisi lingkungan. “Karena mata air yang bersih itu akan membuat tubuh kita sehat,” ungkapnya.

Soekarwo menjelaskan, air yang ada di Jawa Timur, volumenya hanya separuh dari jumlah air yang ada di Jawa Tengah. Bahkan, diungkapkan juga, air yang ada di Jawa Timur hanya 1/7 jika dibanding Jawa Barat. “Oleh karena itu kita wajib untuk menjaga air yang ada di Jawa Timur ini karena jumlahnya yang tidak banyak,” tambahnya.

Pemprov Jatim sendiri saat ini, untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat terus melakukan upaya, di antaranya membangun geo membran di Madura. “Di sana kita buatkan penampungan air untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat,” tandasnya.

Akan tetapi, Di Jember sendiri, lanjut Soekarwo, sumber mata air cukup banyak. Bahkan, lanjutnya, di Desa Suci saja ada sekitar 40 sumber mata air.

“Ini adalah sebuah anugerah tersendiri. Maka dari itu menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaganya,” lanjut Pakde Karwo. Jika kondisi mata air bisa tetap dijaga, maka masyarakat secara otomatis ikut mendukung program kesehatan. Karena salah satu syarat kondisi kesehatan bisa terjaga adalah sering minum air. Dan air itu kebersihaannya juga terjamin. “Kita akan sehat jika kualitas air yang kita minum kondisinya juga bagus. Sebaliknya, kita akan rendah kualitas hidup kita, kalau air yang kita minum juga jelek,” pungkas Soekarwo.

Dalam acara itu, Pakde Karwo bersama istri Ny Nina Soekarwo juga mencanangkan Desa Suci sebagai desa pelindung sumber daya alam. Serta, mengukuhkan sebanyak 50 penyuluh konservasi pedesaan. Ia juga memberikan tali asih kepada pengabdi lingkungan atau tokoh masyarakat sebanyak 40 orang. Dalam acara ini juga, diberikan bantuan berupa 1000 bibit pohon, 5 ton pupuk organik, 400 bronjong dan 850 paket sembako. Dan memberikan tali asih kepada tokoh masyarakat yang berwawasan lingkungan di antaranya KH Mujamil Asbah, H Mahmud Suyuti, dan Ki Lego Suprapto.

Diakhir acara tersebut, Pakde Karwo meminta agar masyarakat dan semua elemen yang hadir tidak mengartikan kunjungan ini sebagai wahana kampanye pilgub. “jangan artikan itu ya (kampanye), ini semua kunjungan bersama masyarakat dalam rangka membangun konservasi hutan di masyarakat”, pingkasnya. (tgh)

No Response

Comments are closed.