Jember Kota Pandhalungan

Pengerukan Sungai untuk Cegah Banjir

Jember Kita, Terpenuhinya kebutuhan infrastruktur yang memadai, merupakan sebuah keharusan yang mesti dilakukan oleh pemerintah daerah. Karena itu, pengadaannya haruslah mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah daerah.

Sebagaimana dilakukan Pemkab Jember. Untuk menunjang aktivitas berbagai bidang yang dijalankan masyarakat, Pemkab Jember telah menjadi ketersediaan infrastruktur yang memadai sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.

Tak hanya jalan dan jembatan saja, yang mendapat perhatian dari Pemkab Jember, dalam rangka pemenuhan infrastruktur. Penerangan jalan umum (PJU) dan sarana irigasipun, juga tak luput dari perhatian pemkab untuk terus diadakan dan ditingkatkan keberadaannya.

Untuk sarana irigasi ini, tidak hanya sekedar bisa mencukupi kebutuhan air pada areal persawahan saja. Tapi lebih dari itu, bagaimana ketika musim hujan berlangsung, air tidak sampai merendam tanaman pertanian, selain juga meminimalisir terjadinya banjir akibat luapan sungai.

Di tahun 2013 ini Dinas PU Pengairan Pemkab Jember mengupayakan terwujudnya peningkatan produksi pertanian melalui pengelolaan, pembangunan, peñatagunaan air dan pemeliharaan jaringan irigasi secara efektif dan efiesien. Menurut Ir. Djoko Santoso, Kepala Dinas PU Pengairan, Pemkab Jember, untuk mendongkrak produktifitas pertanian di Kabupaten Jember setidaknya dibutuhkan pemantapan jaringan irigasi berdayaguna dan berhasilguna serta pemantapan penanggulangan bencana alam banjir.

“Sejalan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan masyarakat, mengakibatkan perubahan fungsi lingkungan. Jelas ini berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air, sebab menuntut pengelolaan sumber daya air dari hulu ke hilir. Karena itu Dinas PU Pengairan mengambil langkah untuk memantau, sekaligus mengevaluasi kegiatan sumber daya air. Apalagi debit air sekarang ini cenderung menurun akibat penggundulan hutan, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja agar kebutuhan air sepanjang tahun tetap tersedia,”jelas Djoko.

Dari catatan DPU Pengarian Jember, menyebutkan, debit air tahunan musim penghujan mencapai147.216 l/dtk, dan di musim kemarau 25,979 l/dtk. Debit air hujan yang seperti ini, merupakan persoalan tersendiri, karena itu dibutuhkan peningkatan ketersediaan air irigasi, khususnya di musim kemarau.

Areal persawahan di Kabupaten Jember cukup luas dan terbagi menjadi tiga jenis, yakni sawah tehnis, sawah setengah teknis dan sawah non teknis. Adapun luasan sawah teknis berjumlah79.878 hektar, sawah setengah teknis 3.007 hektar dan sawah non teknis 3.617 hektar.

“Kota kita tercinta ini  memiliki 3 sungai utama, 37 sungai besar, 76 sungai kecil, 286 sumber air, 248 dam atau bendungan, dan 3 muara. Selain itu saluran primer seluas 80,789 meter kubik, saluran sekunder 498,911 meter kubik, saluran tersier 59,530 meter kubik. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Jember juga memiliki 77 stasiun penakar hujan, 16 wilayah pengamat pengairan, 125 wilayah pimpinan kematren/juru, 212 himpunan petani pemakai air (HIPPA) serta 23 himpunan gabungan HIPPA,”papar Djoko.

Perhatian terhadap infrsatruktur pengairan ini, lanjut Joko, juga diberikan kepada usia dari suatu jaringan irigasi. Karena salah satu penyebab terjadinya kebocoran, yakni adanya saluran irigasi yang sudah rusak akibat melampui umur ekonomis, selain juga tingginya kandungan muatan sedimen (waled) yang berakibat pada pendangkalan sungai.

Kondisi yang seperti ini biasanya diantisipasi melalui program pengendalian banjir dengan cara melakukan pembersihan dan pengerukan sungai atau kali. Karena selama ini, timbunan sampah disinyalir sebagai penyebab timbulnya sedimen, karena itu masyarakat hendaknya juga ikut menjaga kelestarian sungai.

“Masyarakat masih belum sadar sepenuhnya terhadap kelestarian sungai, karena itu Dinas PU Pengairan Pemkab Jember juga melaksanakan sosialisasi dan menggalakan program kali bersih (Prokasih). Sungai bukan tempat untuk membuang sampah, karena akan menyebabkan pendangkalan, akibatnya, jika musim hujan air sungai meluap. Sistem penanggulangan bencana alam, khususnya banjir lebih ditingkatkan, hal ini untuk mengamankan jaringan irigasi maupun baku sawah dari ancaman bahaya banjir.,”imbuh Djoko.(*Win)

No Response

Comments are closed.