Jember Kota Pandhalungan

PERAN KADER POSYANDU BAGI PENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN MASYARAKAT : PART II

Hanya Dihonor Rp 50 Ribu Sebulan

Sebagai layanan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan, posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat dengan penanggung jawab kepala desa. Posyandu ini dimulai dari melayani balita (imunisasi, timbang berat badan) dan orang lanjut usia (Posyandu Lansia).

Kegiatan ini lahir melalui suatu Surat Keputusan Bersama antara Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri), Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kegiatan ini untuk pertama kalinya dicanangkan pada sekitar tahun 1986.

Di awal pemberlakuannya, Posyandu pernah menjadi kebanggaan masyarakat. Setiap bulannya, rakyat berbondong-bondong mendatangi Posyandu yang dikelola berbasiskan komunitas. Tenaga relawan kesehatan di Posyandu yang telah mendapatkan pelatihan dari dinas kesehatan setempat, memberikan panduan kesehatan bagi ibu hamil dan ibu menyusui.

Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, posyandu juga memberi vaksinasi dan makanan tambahan (suplemen) kepada bayi dan balita. Selain itu, Posyandu juga menjadi media deteksi dini kasus-kasus malnutrisi dan kekurangan gizi pada bayi dan balita.

Di Kabupaten Jember, menurut Yumarlis, Kasi Promosi dan UKM, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, sesuai data yang ada, jumlah posyandu sebanyak 2830 unit dengan kader posyandu mencapai 14.150 orang. Kader posyandu yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat secara sukarela ini, dalam setiap bulannya hanya mendapatkan honor transport sebesar Rp 50 ribu per orang.

“Jadi ini bukan gaji, tapi uang transport. Kerja kader posyandu itu kan hanya H min 1, hari pelaksanaan dan H plus 1. H min 1 untuk persiapan, dan hari pelaksanaan serta H plus 1 untuk kunjungan ke rumah warga yang tidak datang,” jelas Yumarlis.

Dana lain yang juga diterimakan kepada posyandu, menurut Yumarlis, adalah dana kesehatan untuk pasca posyandu, sebesar Rp 20 ribu. Dana ini digunakan untuk konsumsi bagi 5 kader posyandu dan satu orang bidan. Ada juga dana kunjungan rumah sebesar Rp 10 ribu yang baru diberikan ketika ada kegiatan kunjungan ke rumah warga yang mengalami kasus kesehatan, misalnya gizi buruk.

Sedangkan bagi anak yang terkena gizi buruk, menurut Yumarlis, mendapatkan pemulihan makanan tambahan (PMT) selama 90 hari yang perharinya senilai Rp 3 ribu. Dana ini diberikan untuk memulihkan anak agar tidak jatuh pada fase gizi buruk. (HUMAS)

No Response

Comments are closed.