Jember Kota Pandhalungan

“Perempuan Penentu”, Menteri Yang Jualan Es Hingga Yang Gak Lulus SMA

Gelaran Mata Najwa On Stage (MOS) di Jember Sport Garden (JSG) semalam, Sabtu (27/8/2016) sungguh spektakuler, karena mengungkap peran perempuan dan bagaimana para perempuan yang menjadi bukan perempuan biasa berkarir hingga meniti hidupnya dari kecil.

Beraneka ragam diungkapkan oleh Host Mata Najwa, mengupas satu persatu 3 menteri yang menjadi narasumber kali ini. Mulai dari seorang cucu sang Proklamator RI, dan menteri yang waktu sekolah berjualan es lilin, hingga menteri yang tidak lulus SMA. Biodata profil masing-masing ditayangkan di awal acara berupa video dan foto-foto yang ditayangkan dengan layar lebar. Hingga masyarakat mengerti betul sosok-sosok yang sedang duduk dipanggung.

Narasumber pertama yang mendapat giliran sapaan adalah Puan Maharani. Berbagai pertanyaan disampaikan diantaranya enak dan ndak enaknya jadi menteri. Dan dijawab dengan bahasa diplomatisnya yang intinya beliau tetap akan fokus pada membantu Presiden untuk dapat mensejahterkan rakyat.

Pertanyaan dilanjutkan dengan situasi akhir-akhir ini dimana reshuffle kabinet telah dilakukan bahkan sudah dilakukan dua kali, namun ketiga menteri ini tidak direshufle, bagaimana seorang perempuan menghadapi hal tersebut. Dan satu persatu menteripun menjawab mulai dari Khofifah, yang menjawab dengan berbagi penjelasan yang pada intinya adalah perempuan mendapatkan amanat itu lahir batin kemudian ditambahi oleh Susi perempuan itu dapat melakukan hal yang lebih baik, dan tidak ketinggalan Puan menyampaikan perempuan itu lebih sempurna turun kelapangan, ngecheck satu persatu, lebih detail dan Khofifah menambahi lagi perempuan dapat membangun jaringan lebih luas dengan kekuatan yang lebih.

Sementara itu terkait dengan menteri termuda dan menjadi menteri koordinator (Menko) Puan menyampaikan beliaunya lebih banyak untuk dapat berkoordinasi dan merangkul semua jajarannya. Kemudian oleh Nana, panggilan akrab Najwa Shihab, disambung dengan isu menteri titipan, dalam hal ini menteri Puan menyampaikan, bahwa dia telah memiliki banyak pengalaman belasan tahun dibidang politik, peraih sura terbanyak nasional, sehingga apa yang diraih sat ini sesungguhnya telah dimuali sejak lama, bukan secara tiba – tiba.
Disambung lagi oleh Nana terkait dengan anaknya Presiden pada waktu itu, dan cucunya Bung Karno sang proklamator, Menteri Puan menyampaikan sangat bersyukur dari apa yang telah diberikan oleh Allah SWT, karena itu merupakan rahmat.

Pertanyaan dilanjutkan ke Menteri Susi. Namun sebelum diberi pertanyaan diputarkan sebuah tayangan. dimana tanyanag tersebut berisi rekaman Menteri Susi, yang pernah diwawancari oleh Nana di program Mata Najwa pada waktu itu, saat diawal-awal menjadi menteri. Isi tayangannya kurang lebih Menteri Susi pada waktu itu berapa lama akan menjadi menteri, dan ketika itu Menteri Susi menjawab dua tahun.

Ternyata hal tersebut diungkit oleh Najwa Shihab pada saat ini, mengingat dalam waktu dekat ini atau bulan depan, masa menjadi Menteri Susi akan dua tahun. Menanggapi hal tersebut disampaiakan sejatinya tetap atas dasar harga diri dan bangsa negera dan karena laut adalah kekuatan Indonesia dan laut banyak tekanan dari berbagai pihak maka dukungan selurh masyarkat Indonesia sangat dibutuhkan.

“Apakah rela Menteri Susi mundur ?” tanya Nana kepada Menteri Khofifah dan Puan, Secara bergantian dua menteri ini menjawab, “85% laut Indonesia butuh ibu Susi” jawab Menteri Khoifah. “Karena diperairan kita butuh dekat dengan nelayan, kita perlu perempuan sperti ibu susi”, ucap menteri puan.

Berlanjut ke cerita perjuangan Menteri Susi sebelum beliau menjadi Menteri dan pengusaha sukses yang memiliki maskapai penerbangan “Susi Air”. Dimana sebelum memiliki pesawat Susi Air, Menteri Susi bekerja sendiri di Cirebon untuk berjualan ikan untuk melatih kemandirianya dan kerja dari hasil keringatnya. Hal itu dilakukan puluhan tahun dan berangkat mulai dini hari pulang sore dan malam hari. Dan perjuangan hidup itu tidak mudah karena pendidikannya juga tidak tinggi, hanya sampai kelas 2 SMA.

Masih berbagai pertanyaan kepada Menteri Susi. Kali ini Najwa Shihab juga minta tanggapan terkait adanya orang yang akan membayar Menteri Susi Rp. 5 Triliyun untuk mundur jadi menteri. “Angka 5 Triliyun bukan angka untuk menjual bangsa Indonesia,” ujarnya.

“Bahkan ibu susi pernah diancam santet 7 turunan untuk mundur jadi menteri,” lanjut Najwa. Terkait dengan hal itu Menteri Susi dengan tegas menyampikan ketidaktakutannya terhadap hal semacam itu, karena beliau juga dari warga pesisir selatan timur, yang juga mengenal hal tersebut. “jadi tidak takut” tegas Najwa. “tidak takut.” jawab Menteri Susi.

Pertanyaan berikutnya giliran ke Menteri Khofifah, dimana Menteri Khofifah diberikan pertanyaan berupa pilihan yaitu lebih enak mana jadi menterinya Gus Dur atau menterinya Jokowi?. Mengingat Menteri Khofifah pernah menjadi menteri di dua kepemimpianan. Menurut Khofifah menterinya siapapun harus siap tidur malam di angka kecil, sekitar jam 2 dan hal tersebut sudah terbiasa baik di jamannya Gus Dur atau Jokowi, dan kalo dulu ditekankan pada jaman reformasi dan sekarang ditekankan pada kerja keras dan kerja nyata.

Dirinya menyampaikan setiap kali rapat kabinet bertemu dengan berbagai menteri, misalkan menteri pariwata, menceritakan tentang indah obyek wisata, menteri Susi menceritakan tentang indahnya laut, kalo menteri Susi menceritakan tentang kekerasan seksual, lansia, disabilitas. Sehingga dia memotivasi di jajarannya bahwa di Kemensos itu kerjanya menuju surga, ketika melihat lansia, melihat warga butuh pelayanan lebih, disabilitas, tindak kekerasan seksual, maka hati dan perasaan kita harus menyatu kepada meraka.

Masih di Menteri Khofifah, yang mana sebelum pertanyaan, terdapat tayangan berbagai foto Khofifah pada waktu masih kecil. Foto saat SD, SMP dan SMA, dengan mengenakan seragam sekolah atau pas fotonya. Selain ditayangkan cuplikan foto tersebut, Khofifah juga diberi kejutan dengan didatangkan seorang anak kecil dengan membawa termos es yang harapannya Khofifah teringat waktu masih kecil seumuran anak kecil tersebut duduk dibangku SD.

Karena pada waktu itu menteri khofifah saat sekolah juga jualan es lilin dengan membawa termos es pada saat sekolah. Rupanya Anak kecil tersebut yang dibuat kejutan adalah Nadia, Siswi SD Jember Lor 2. Nadia naik keatas panggung dan memberi kejutan ke Khofifah, dan langsung Nadia duduk di pangku oleh Khofifah. Nadia ditanya oleh Najwa, kalo besar nanti ingin jadi apa, dan nadia menjawab ingin jadi Menteri Sosial. Dan langsung direspon tepuk tangan meriah oleh seisi penonton yang ada di JSG.

“Ibu khofifah mohon es lilin dalam tremos bisa dibagikan ke penonton,” ucap Najwa Shihab. Sontak suara riuh gemuruh penonton mengema mendengar hal tersebut. Tanpa ragu dan malu, Khofifah mengambil termos dari Nadia dan membagikan es lilin yang ada dalam termos ke sejumlah penonton yang berada di dekat panggung. Kembali suasana menjadi sangat histeris, saat melihat pemandangan tersebut. Rupanya penonton sudah terhipnotis atas suasana yang dibawakan dalam program MOS ini dengan berbagai rangkaian acaranya.

Dari hal tersebut Khofifah ditanya “mengapa dulu ketika SD jualan es, apakah ketika itu kekurangan biaya ?” Tanya Najwa Shihab, Khofifah lantas menjawab, bahwa dulu jualan es bukan karena kekurangan biaya, keluarganya punya sawah yang luas, dulu jualan es untuk beli buku. Selain itu Khofifah juga meceritakan ketika beliaunya jualan es seperti apa dan setelah pulang sekolah jualannya bagaimana.

Sementara terkait dengan pendidikan Najwa Shihab, langsung mengarah ke Menteri Susi, karena pada waktu itu memang Susi bahkan tidak lulus SMA namun bisa jadi menteri, untuk itu Najwa minta pandangannya terkait pentingnya pendidikan. Susi-pun menjawab dengan tegas bawha pendidikan tetap harus nomor 1, beliau jadi menteripun butuh pendidikan dengan berbagai pendidikan yang didapat dari berbagai pengalaman hidupnya, tempaan hidupnya, berangkat jam 3 pagi pulang malam dan itu dilakukan tiap hari ketika itu, hingga ada akhirnya sekarang memiliki berbagai bisnis, usaha dan jadi menteri.

Tentang perjuangan dan tempaan hidup juga ditanyakan Puan meski terlahir dari darah biru keluarga politik. Hal tersebut ditanggapi sama, dimana tidak mudah orang berpolitik, hal tersebut dipelajari sejak kecil, sejak lulus kuliah, banyak tokoh-tokoh politik pada saat itu menjabat dan saat ini beliaunya masih ada, dan hal tersebut dipelajari olehnya, hal itu yang menempanya setiap saat, dimana harus berfikir, berbicara, melakukan pendekatan kepada rakyat, menyatu kepada rakyat, Tanya kepada rakyat kemaunnya apa, rajin turun kelapangan, sehingga hal tersebut sampai sekarang ini bukan suatu yang instan dan mudah diraih. (Ifur, Izza, Mutia)

No Response

Leave a reply "“Perempuan Penentu”, Menteri Yang Jualan Es Hingga Yang Gak Lulus SMA"