Campak Rubella

PERLU PENGUATAN LIPOSOS ATASI PERMASALAHAN GEPENG

Penyandang permasalahan sosial, seperti gelandangan, pengemis dan anak jalanan menjadi perhatian serius Dinas Sosial Pemkab Jember, bahkan masuk dalam program prioritas. Keberadaan mereka yang menjadi sorotan masyarakat dan menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan kota, ternyata tidak hanya berasal dari Jember, tapi juga kabupaten lain, seperti Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi dan Lumajang.

Penuntaskan keberadaan penyandang permasalahan sosial yang dianggap kerap mengganggu ketenangan umum ini, memang bukan perkara mudah. Malahan Ir. Heru Eko Sunarso, Kepala Dinas Sosial Pemkab Jember, mengibaratkan penuntasan penyandang permasalahan sosial, seperti pepatah mati satu tumbuh seribu.

Meski telah dilakukan razia, ternyata jumlah penyandang permasalahan sosial  tidak semakin berkurang, malah bertambah. Karena itu, dalam waktu dekat Dinas Sosial Pemkab Jember, berencana akan melakukan jalinan kemitraan dengan kabupaten lain untuk meminimalisir masuknya mereka ke Kabupaten Jember, demi lancarnya program pengentasan penyandang permasalahan sosial tersebut.

“Dinas Sosial Pemkab Jember juga akan melakukan penguatan terhadap lingkungan pondok sosial (Liposos) di Jalan Gajahmada Kecamatan Kaliwates. Baik itu sarana dan prasananya, termasuk sumber daya manusia (SDM)-nya, perlu dibenahi dan ditata ulang,” ujar Heru.

Penataan ulang ini, lanjut dia, misalnya dilakukan ketika Dinas Sosial dan Satpol PP telah melakukan penyisiran terhadap penyandang permasalahan sosial, setidaknya tempat tersebut (liposos-red) harus siap segalanya. Liposos tidak hanya sekedar menampung mereka tapi juga memberi pembinaan, karena itu butuh anggaran tidak sedikit untuk menangani penyandang permasalahan sosial.

Eko sendiri menyadari, kendati penanganan penyandang permasalahan sosial ini menjadi bidikan utama dari Dinas Sosial Pemkab Jember, namun hal itu tidak bisa diatasi sendiri tanpa dukungan dari pihak terkait seperti Sat Pol PP, polisi, dinas kesehatan serta masyarakat. Kordinasi lintas kabupaten juga akan dilakukan dalam upaya pendataan masuk gelandangan, pengemis dan anak jalanan ke Kabupaten Jember.

Ini untuk memudahkan dinas tersebut untuk memulangkan mereka ketempat asalnya dan diharapkan tidak kembali lagi, mengingat ada dugaan penyandang permasalahan sosial ini datang ke Jember sengaja didrop menggunakan truk pada malam hari. Termasuk mengembalikan anak-anak kecil penarik amal di jalanan kepada yayasannya.

“Ini jelas sebuah pembodohan mengajari anak-anak untuk meminta-minta harusnya mereka itu belajar di sekolah. Belum lagi resiko di jalanan cukup tinggi seperti rawan terjadinya kecelakaan, karena itu kita juga terus memantau penarik amal ini di jalanan,” tandasnya.

Penyandang permasalahan sosial ini tidak karena akibat himpitan ekonomi saja, ada beberapa anak jalanan yang biasa ngamen di lampu merah ternyata tingkat ekonomi orang tuanya mampu. “Kalau masyarakat tidak membiasakan memberi uang kepada mereka, maka penyandang permasalahan sosial akan berangsur berkurang,”tukas Heru.

Heru sendiri punya obsesi setidaknya Jember bisa meniru Yoyakarta yakni mampu mengaktualisasi anak jalanan, dinas sosial setempat berhasil menjadikan anak jalanan sebagai sebuah potensi. Seperti dicontohkan, di kawasan perbelanjaan Malioboro, setelah mendapat pembinaan, eks anak jalanan ini tidak hanya sekedar piawai menyanyi, tapi lebih mengarah pada sosok pribadi yang produktif layaknya seorang seniman. (hms-jbr)

Download Logo HUT RI 72
No Response

Comments are closed.