Jember Kota Pandhalungan

Pilih Etawa Karena Nilai Ekonomisnya

LBagi masyarakat desa, beternak kambing adalah hal yang biasa. Ini terjadi karena beternak kambing umumnya dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Jumlah ternak yang dipelihara kadang juga sedikit, karena memang merupakan usaha sampingan yang diharapkan menjadi tabungan. Usaha penggemukan kambing seperti ini, sebenarnya sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi usaha yang menjanjikan nilai ekonomis. Namun  selama ini, masyarakat petani belum terlalu banyak yang berminat menjadikan usaha penggemukan kambing ini sebagai usaha serius, kalaupun ada jumlahnya tidak terlalu banyak Seperti usaha penggemukan kambing jenis Etawah (PE) yang dikembangkan masyarakat di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Jember. Didukung lingkungan yang sehat dan ketersedian pakan ternak yang cukup melimpah, menjadikan daerah ini cocok untuk sentra pembibitan dan produktifitas kambing etawa. Etawa adalah jenis kambing perah yang merupakan hasil persilangan antara kambing dengan kambing Kacang. Kambing Etawah berasal dari India sedangkan kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing perah lain yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah kambing Saanen yang berasal dari Swiss. Dipilihnya Etawa oleh masyarakat Sidomulyo, dikarenakan kambing jenis ini lebih besar 2 hingga 3 kali dibading fisik kambing biasa maupun jenis domba. Sedangkan keberadaannya, jarang ditemui karena harganya juga lebih mahal. “Masyarakat Sidomulyo memilih beternak kambing etawa karena sudah tahu manfaatnya dan potensi ekonomisnya,” ungkap Kepala Desa Sidomulyo, Silo Jember, Marjono. Marjono menjelaskan, untuk usaha pengembangbiakan kambing etawa tidak seperti beternak kambing biasa. Agar daging dan susu yang dihasilkan bisa memberikan keuntungan, perawatannya harus maksimal, yakni dengan mandi air hangat tiap hari dan memberi tambahan makanan yang bernutrisi. “Kambing ini memiliki daging yang bagus untuk dikonsumsi dan kandungan susu yang baik untuk kesehatan. Untuk itu, perlu perlakuan yang ekstra juga, seperti memandikannya dengan air hangat setiap hari, supaya menghilangkan keringat dan memberi tambahan nutrisi ampas tahu atau yang lainnya. Ini penting, karena selain makanan ternak berupa dedaunan sengon, lamtoro atau keledri, nutrisi itu akan meningkatkan produktifitas susu”, katanya. Peluang usaha penggemukan dan pengadaan susu dari kambing Etawah ini, lanjut dia, masih cukup terbuka. Pasalnya, permintaan konsumen akan pasokan daging dan susu lambing Etawah menunjukkan kecenderungan terus naik. Karena itu produktifitas kambing etawa di Sidomulyo perlu dikembangkan lagi Saat ini, kambing yang diternak masyarakat di daerah tersebut hanya baru sekitar 50 hingga 70 ekor. “Satu ekor bibitan harganya berkisar Rp.800.000 sampai Rp.1.000.000, sedangkan untuk pejantannya, bisa mencapai Rp.4.000.000 hingga Rp.5.000.000,” ungkap Marjono Untuk rencana kedepan, Marjono berharap Sidomulyo bisa menjadi sentra ternak kambing etawa, sehingga mampu membawa nama Jember sebagai salah satu sentra kambing Etawah. Seperti yang terdapat di daerah Kali Gesing, Purworejo, Jawa Tengah, dan Senduro Lumajang. Ataupun pemberdayaan Kambing domba di Bogor.

Susunya-pun Menjanjikan Keuntungan

Selain harga jual dan daging yang cukup menggiurkan, beternak kambing Etawa ternyata masih bisa memberikan keuntungan lain. Susu yang dihasilkan kambing ini, ternyata memiliki kandungan gizi dan protein yang konon dapat menyembuhkan sejumlah penyakit. Susunya bebas dari bakteri karena dapat diolah secara cepat dan tidak bercampur bahan kimia. Bila dikonsumsi secara teratur. Susu kambing etawa bisa menjaga stamina tubuh dan menyembuhkan sejumlah penyakit seperti DBD, darah tinggi asam urat hingga diabetes. “Setiap hari, peternak kambing etawa di Sidomulyo sangup memeras 1 hingga 3 liter per/kambingya. Akan tetapi itu tergantung perawatan kambing etawa, jika bagus, maka susu maka hasilya maksimal. Sebaliknya, jika kurang baik, maka susu yang didapat, hanya separuhnya”, terang Marjono. Saat ini harga susu kambing etawa, menurut Marjono, bisa mencapai dua kal lipat harga susu sapi. Karena manfaat dan kandungan gizinya susu etawa dinilai lebih banyak. “Harga per/liternya, yang sudah melalui produksi pabrik dan dijual untuk masyarakat umum bisa mencapai Rp.30.000 – Rp.34.000. Ini beda jika dikonsumsi untuk masyarakat Sidomulyo sendiri, yakni perbungkusnya hanya Rp.20.000 – Rp.25.000”, pungkasnya. Saat ini permintaan pasar terhadap susu kambing etawa dari Sidomulyo masih berpeluang bagus. Perharinya peternak sanggup memproduksi 100 liter bahkan lebih. Seperti peternakan kambing etawa Asyifa milik Pak Didi yang harus memasok kebutuhan susu 100 liter ke berbagai pasar di Jember. Meski begitu, susu kambing etawa dari Pak Didi tetap dipasarkan dengan harga Rp. 35.000 perliternya. Seperti halnya Pak Didi, Dari hasil memeras susu di kandang kambing etawa setidaknya rata-rata para peternak di Sidomulyo bisa meraup rejeki jutaan rupiah. Tentunya Pak Didi dan para peternak berharap budidaya kambing etawa di Sidomulyo bisa menjadi komoditas baru Kabupaten Jember yang dapat dipasarkan di berbagai daerah bahkan diekspor ke luar negeri.

No Response

Comments are closed.