Jember Kota Pandhalungan

Sentra Budidaya Ikan Air Tawar di Umbulsari

Gurame-1

Oleh : Tim JK

Jember Kita. Prospek budidaya ikan air tawar di Kabupaten Jember, masih sangat menjanjikan. Ini karena, pasar untuk komoditi ini masih terbuka lebar, bahkan dari total produksi ikan air tawar, khususnya gurami, yang dihasilkan petani masih jauh di bawah kebutuhan pasar.

Rata-rata produksi ikan gurami yang dihasilkan petani, utamanya dari sentra ikan gurami di Kecamatan Umbulsari, berkisar 50 ton pertahun. Produksi ikan yang sedemikian besar ini, masih jauh dari kebutuhan pasar, yang setiap tahunnya butuh ratusan ton ikan.

            Seperti diakui Romli Hanafi, warga Desa Paleran Kecamatan Umbulsari. Dalam perbincangan singkat dengan wartawan Jember Kita (JK) saat betandang ketempat budidaya ikan di Desa Paleran Kecamatan Umbulsari, Romli mengatakan, bahwa peluang pasar untuk ikan gurami, masih terbuka luas, bahkan masih membutuhkan ratusan ton.

Romli yang terlihat asyik memberi pakan ikan gurami miliknya, ketika didatangi tim liputan JK, langsung mengumbar senyum ketika mengetahui kedatangan tamunya itu. Menurutnya, ketertarikan terhadap budidaya ikan air tawar yang dimulai sejak tahun 1997 lalu hingga sekarang, karena usaha ini memang cukup menjanjikan.

Apalagi prospek penjualan gurami dinilainya cukup cerah dan sangat menguntungkan, mengingat ikan ini banyak disukai masyarakat untuk dikomsumsi, kendati harganya lebih mahal ketimbang ikan air tawar lainnya seperti lele. “Tiap satu petak mampu menghasilkan ikan gurami sebanyak 3 kwintal atau 1 ton untuk 19 petak. Seperti punya saya ini, apalagi harga ikan gurami perkilonya saat ini mencapai Rp.32.000,” paparnya.

Untuk pemasarannya, permintaan ikan gurami dari hari ke hari cenderung terus meningkat  dan sebagaian besar. Ikan yang akan dikirim ke pasar tersebut, menurut dia, sebagian besar berasal dari Desa Paleran Kecamatan Umbulsari.

Daerah tujuan pemasaran ikan ini, selain untuk memenuhi kebutuhan local, setiap hari dikirim ke Bali, serta Surabaya.  “Sejatinya memelihara ikan gurami ini tidak terlampau sulit, asal cukup pakan dan air, apalagi ikan ini tidak hanya menyukai pakan buatan pabrikan, tapi juga daun-daunan,”ungkap Romli.

Dengan dibantu 12 orang karyawannya, budidaya ikan milik Romli ini dari hari ke hari semakin menggurita dan banyak dikenal orang, termasuk pengusaha restoran terkemuka di Jember, seperti RM Terapung, RM.Taman Daun dan RM Bumbu Deso. Dari modal awal sebesar Rp. 100 juta, kini usaha tersebut telah mendatangkan keuntungan hingga puluhan juta rupiah.

Sementara untuk kebutuhan bibit ikan untuk usaha budidayanya, Romli mengaku, membelinya dari penangkar ikan di Kecamatan Gumukmas. Pemeliharaan bibit ikan ini disertai dengan pemberian pakan berupa konsentrat, agar pertumbuhannya bisa lebih cepat dan sehat.

“Untuk ikan ukuran kecil biasanya 1 kilogram terdiri dari 3 ekor, dan paling besar beratnya sekitar 9 ons. Biasanya stok ikan melimpah ketika memasuki musim panen, yakni awal bulan Maret. Memang selama ini ada keinginan untuk meningkatkan jumlah ikan yang dihasilkan, namun itu semua juga bergantung stok ikan yang dipunyai petani,” ujarnya.

Pemenuhan kebutuhan ikan ini, kata dia, sebenarnya bisa dilakukan oleh petani di Umbulsari, apalagi Desa Paleran sejak lama dikenal sebagai sentra budidaya ikan air tawar utamanya gurami. Terlebih di daerah ini sedikitnya terdapat 7 orang pengepul ikan, itu belum termasuk pengepul yang berskala kecil.

Hanya saja yang kerap menjadi persoalan bagi petani dalam upaya mengembangkan budidaya ikannya, adalah keterbatasan modal. Mengingat kebutuhan modal untuk budidaya ikan gurami tidaklah kecil, bisa mencapai 19-20 juta dalam setiap musim tanam.

 

Tunggu Pemilik Modal

Kendala untuk pengembangan budidaya ikan gurami ini, juga diakui petani ikan, Suwarno, Desa Umbulsari, Kecamatan Umbulsari. Suwarno yang sudah 12 tahun menggeluti budidaya ikan itu, saat ini mengelola kolam seluas kurang lebih ¾ hektare.

Kolam dengan luas seperti itu dan sudah dipetak-petak menjadi 10 kolam, masing-masing berisi ikan yang seluruhnya sebanyak 3500 ekor ikan. Dari ikan sebanyak itu, dalam setiap musim panen dia bisa menghasilkan sebanyak 1 ton ikan perkolamnya. “Kalau menurut teori, setiap kolam idealnya bisa menghasilkan sekitar 1,5 ton, setiap 8 bulan sekali,” ujarnya.

Usaha budidaya ikan gurami yang digeluti Suwarto ini, juga dilakukan dengan cara memenuhi sendiri untuk kebutuhan bibit ikannya. Upaya yang dilakukan ini, selain untuk mempermudah mendapatkan bibit ikan yang cocok dengan karakter alam di daerahnya juga untuk memperkecil pengeluaran, sehingga tidak perlu membeli bibit dari orang lain.   

 “Ada sekitar 30 ekor induk plus pejantannya, dan telah dipetak-petak di kolam untuk pembibitan. Itu ada sekitar 7 kolam, sudah mulai produksi sejak tahun 2011,” ujar Suwato, yang sudah merintis pembibitan ikan gurami itu, sejak tahun 2011 lalu.

Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam usaha budidaya ikan gurami ini. Satu diantaranya, ketersedian air sebagai media utama untuk pemeliharaan ikan. Untuk kebutuhan air ini, biasanya tidak ada masalah saat bulan Juni sampai Oktober. “Tapi setelah bulan 7 sampai bulan 10, sudah kesulitan. Namun untuk saat ini sirkulasi air sudah mulai membaik,”katanya.

Untuk mengatasi kesulitan ini, Suwarto terpaksa melakukannya lewat beberapa cara, seperti ngebor sumur. “Saya menekuni budidaya ikan sejak 10 tahun lalu,” ujar Suwarto yang mantan Kasi PMD, Kecamatan Umbulsari itu. 

            Mengenai budidaya ikan gurami, utamanya bagi mereka yang masih akan memulai, Suwarto menyarankan, tidak perlu dihantui rasa takut, karena selain pasarnya masih terbuka luas, tingkat kematian ikannya juga kecil. Demikian juga untuk melihat kondisi ikan, menurutnya cirri-ciri ikan gurami yang sehat, pasti suka menyembul ke permukan untuk ambil O2.

Sedang untuk ikan yang sakit, biasanya kalau sudah keluar dan mengeluakan gelembung, pasti sakit. “Yang saya ternak ini, gurami lokal. Untuk pakannya saya membeli di distributor. Sehari, ikan gurami yang masih kecil, idealnya diberi makan 5 kilogram perkolam, kalau diberi makan berlebih, itu bisa mati,”paparnya.

Sementara untuk upaya pengembangan, Suwarto, meski pada dasarnya peluang pasarnya masih cukup terbuka lebar, namun petani pada umumnya kesulitan permodalan. Mengingat untuk budidaya ikan gurami, modal yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 25 juta untuk awal, terhitung dengan biaya pembuatan kolam.

“Untuk ukuran kolam, 5×25 meter. Biaya perawatan sampai panen, bisa Rp 19 juta sampai Rp 20 juta. Untuk yang masih baru, bisa Rp 25 juta. Tapi untuk pengembangannya, kita butuh investor,” imbuhnya.

Di lain pihak, Camat Umbulsari, Purwoadi S.H, menambahkan, untuk masalah budidaya ikan gurami di daerahnya dilakukan melalui sharing dengan pihak petani ikan. Mulai dari bagaimana pemasarannya, kalau sekiranya kecamatan bisa membantu, maka akan dibantu.

Pembinaan terhadap petani ikan ini, agar petani bisa lebih berdaya dan meningkat kesejahteraannya. “Kalau ada kesulitan, dan kecamatan bisa membantu, ya dibantu. Kalau untuk di daerah Umbulsari ini, sentra ikan yang besar itu ada di daerah Paleran dan Tegalwangi. Satu kali panen bisa menghasilkan 4 Ton ikan gurami. Jadi kisarannya dalam satu tahun bisa menghasilkan 15 ton ikan gurami,”tambahnya.(tim)

No Response

Comments are closed.