Kerja Nyata

Serabut Kelapa

1117 views

Serabut Kelapa dari Jember Mendunia

Pertumbuhan sector usaha di Kabupaten Jember, menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Ini ditandai dengan semakin banyak dan beragamnya usaha yang digeluti masyarakat, yang diantaranya bahkan ada yang berskala internasional. Kondisi yang demikian, sudah barang tentu akan memberikan dampak positif pada roda perekonomian. Diharapkan, kondisi yang demikian akan semakin memotivasi kalangan pengusaha untuk lebih kreatif dan inovatif, agar usaha yang mereka jalankan, dapat terus berkembang.

Seperti yang sudah dilakukan seorang pengusaha asal Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo-Jember, Suwidi. Bos CV Sumber Sari ini, mengaku, bekal ilmu yang dimiliki serta keterampilan dan keyakinan yang penuh, Suwidi, salah seorang dari sekian banyak usahawan di Jember, terus mengembangkan usahanya, yakni Industri cocofiber dan cocopeat. Usaha yang telah digelutinya selama 12 tahun itu, belakangan semakin menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Saat ini hasil produksinya, bahkan sudah dipasarkan hingga ke negeri Cina. Menurut Suwidi, awalnya industry tersebut adalah home industry biasa, yang bergerak dibidang jual beli kelapa. Namun seiring perjalanan waktu, ditambah dengan keuletan serta kerja kerasnya, Suwidi berhasil mengubahnya menjadi sebuah industry yang besar. “Awalnya saya hanya berfikir, bagaimana caranya agar serabut kelapa tersebut tidak mengotori lingkungan, kalau mau dibuang terlalu banyak, jadi saya terus berfikir dan akhirnya saya menemukan ide, agar serabut tersebut diproses lebih lanjut sehingga menjadi sebuah produk, dan ternyata banyak diminati, untuk itu saya memutuskan untuk lebih focus pada usaha cocofiber dan cocopeat ini”, ujarnya. Untuk proses penghancuran serabut kepala menurut dia, menggunakan alat khusus dan setelah itu dijemur. Selanjutnya, setelah dijemur, serabut kelapa yang sudah halus tersebut, kemudian dicetak dan dikemas seperti bentuk balok. “Kalau untuk cocofiber, serabut kelapa dihancurkan terlebih dahulu, dijemur, kemudian dibentuk seperti balok. Itu biasanya digunakan untuk sofa, jok mobil, jok pesawat, springbed. Nah, kalau cocopeat itu kan butiran serbuk serabutnya, jadi tidak diproses khusus, biasanya cocopeat ini digunakan untuk petroganik,” paparnya. Ia juga menjelaskan bahwa untuk cocofiber, memiliki warna yang khas, yakni warna kuning mas, dengan ukuran bal 45x65x92cm, tali straping bel 11 alur, dan berat antara 80-87 kg. Cocofiber ini hanya memiliki kadar kotor sekitar 3%. Cocofiber tersebut dijual dengan harga RP.3.000/Kg nya, hingga saat ini, produk cocofiber milik Suwidi terus dieksport ke Cina setiap seminggu sekali, biasanya cocofiber tersebut dikirim dengan menggunakan kontener berukuran 40Hc, yang memuat 17,2 hingga 18 ton cocofiber yang sudah berupa produk jadi tersebut. Sedangkan untuk cocopeat, penjualannya menggunakan kemasan karung dengan ukuran 75-115 cm, dengan harga Rp.200 rupiah/Kg nya. Untuk cocopeat Suwidi memasarkannya ke daerah lokal dan daerah gersik. Dalam sebulan kapasitas cocopeat yang diproduksi bisa mencapai 1000 ton.

Selain itu, Suwidi juga mengatakan, bahwa untuk bahan baku, serabut kelapa, Ia dapatkan dari para penjual kelapa yang ada di Kabupaten Jember. “Untuk bahan bakunya itu, saya biasanya membelinya dari para pedagang kelapa yang ada di Jember, seperti di Kejayan, Mayang, dan tempat lainnya, dalam sehari itu saya bisa mendapatkan 50.000 serabut kelapa” tegasnya. Suwidi bersama 46 karyawannya akan terus mengembangkan usaha ini, karena baginya usaha ini cukup produktif, sehingga selain dapat terus menyerap tenaga kerja, juga dapat meningkatkan industri yang dimilikinya itu. Dan yang tak kalah heboh lagi, Usaha cocofiber dan cocopeat milik Suwidi ini dipilih mewakili Jember, untuk mengikuti pameran Expo yang akan diadakan di Jakarta pada 24 Mei nanti.

No Response

Comments are closed.