Kerja Nyata

Si Hitam Yang Menjanjikan

1420 views

Berbicara potensi perkebunan di Kabupaten Jember memang tidak pernah ada habisnya. Tak hanya tembakau saja yang menjadi ikon, produk-produk perkebunan unggulan lain pun siap dikembangkan secara terpadu. Saat kita menelusuri wilayah dengan kontur perbukitan di Jember, mata kita tak akan bisa lepas dari hamparan tanaman kopi. Ya, kopi memang menjadi tanaman primadona sejak lama. Bukan hanya ditanam oleh perusahaan daerah maupun swasta, perkebunan milik rakyat pun sudah bisa meneguk nikmatnya pendapatan dari hasil panen kopi.

Bahkan ada kecenderungan, luas areal penanaman kopi di Kabupaten Jember terus bertambah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember, dari tahun 2008 hingga 2010 tercatat peningkatan luas lahan kopi serta produksinya di Kabupaten Jember. Dengan bertambahnya lahan sebesar 9 ha, produksi kopi di Jember mampu didongkrak hingga sebesar 13,67%. Jenis kopi yang ditanam di Kabupaten Jember masih didominasi oleh robusta. Jenis ini memang berkembang baik di wilayah Jember. Kecamatan Silo menjadi penyumbang terbesar produksi kopi robusta di Jember. Lebih dari 40 persen kopi disuplai dari kecamatan ini. Bahkan kopi dari Desa Sidomulyo Kecamatan Silo telah diakui sebagai salah satu produk kopi dengan mutu yang baik dan telah mendapat sertifikasi produk.

Desa Sidomulyo memang telah tersohor sebagai penghasil kopi dengan kualitas ekspor. Dimulai dari tahun 2004, petani yang dibantu oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) dan perusahaan eksportir mitra melakukan pengolahan kopi dengan sistem olah basah (wet processing). Produk olahan dalam bentuk ose telah berhasil menembus pasar ekspor sebanyak 20 ton.

Tak berhenti sampai disini, masyarakat Desa Sidomulyo pun melakukan pengolahan kopi bubuk. Hal ini bertujuan untuk semakin meningkatkan nilai tambah produk kopi yang selama ini hanya dijual dalam bentuk ose. Produk kopi tersebut dikemas dan diberi label sehingga menarik konsumen untuk membeli. Saat ini kopi bubuk produksi Desa Sidomulyo dipasarkan di sekitar Jember, pameran agribisnis, serta koperasi setempat. Jenis kopi yang ditanam di Kabupaten Jember didominasi oleh robusta. Jenis ini memang berkembang baik di wilayah Jember. Kecamatan Silo menjadi penyumbang terbesar produksi kopi robusta di Jember.

Seolah tak mau kalah, wilayah lain dalam cakupan Kabupaten Jember terus berupaya menggali potensi tanaman yang juga menjadi primadona di banyak negara. Di Desa Kemiri Kecamatan Panti, kopi ternyata menjadi tanaman perkebunan yang diminati masyarakat. Booming kopi rakyat di desa yang pernah dilanda banjir bandang awal tahun 2006 tersebut terjadi pada tahun 2003.

Bermula dari adanya pengarahan dan bantuan bibit dari PT. Jawati dan PDP di Kecamatan Panti, bibit-bibit kopi dengan kualitas yang baik tersebut akhirnya berhasil dikembangbiakkan di lahan masyarakat. Dukungan iklim yang memadai di Desa Kemiri, membuat kopi tumbuh dengan baik. Keadaan ini terus berkembang dan puncak popularitasnya terjadi pada tahun 2009. Kepala Desa Kemiri Kecamatan Panti, Suryono, mengatakan bahwa lahan yang digunakan untuk menanam kopi merupakan lahan yang tidak produktif. Kondisi tanah yang kering tersebut awalnya hanya ditumbuhi semak belukar. Namun siapa sangka, lahan-lahan tidur di desa tersebut akhirnya mampu disulap menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Saat ini sudah lebih dari 200 orang yang mengusahakan kopi rakyat. Masyarakat yang rumahnya berbatasan dengan hutan pun juga sudah mulai melakukan budidaya kopi secara terpadu. Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Taman Putri, Juari, sebanyak 175 anggota LMDH melakukan budidaya kopi dalam skala kecil.

Menurutnya budidaya kopi juga mendapat dukungan dari Perhutani. Ia mengakui, setelah ada kerjasama antara perhutani dan masyarakat desa hutan dalam budidaya kopi, kualitas hutan di sekitar tempatnya tinggal semakin membaik. Ia bahkan mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi pembalakan liar yang terjadi di hutan. Selain peningkatan kesadaran masyarakat setempat, masyarakat yang tinggal di sekitar hutan tersebut sudah fokus untuk merawat kopi. Hingga saat ini masyarakat Desa Kemiri sudah melakukan pengolahan kopi sebelum dipasarkan dalam bentuk ose. Mereka menggunakan metode olah kering dengan alat yang masih tradisional. Meskipun dengan metode yang sederhana, setidaknya mereka telah melakukan upaya untuk meningkatkan nilai tambah. Dibawah naungan dan binaan koperasi milik PT Indokom sebagai mitra, kopi petani Desa Kemiri pun dipasarkan ke kota-kota besar di Jawa Timur seperti Surabaya dan Malang.

No Response

Comments are closed.