Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

SIASATI URBANISASI PENDIDIKAN PERLU DIRIKAN SEKOLAH BERKWALITAS DI DESA

Profesi guru sampai kapanpun di dunia ini tetap dibutuhkan dan punya andil besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena itu tidak salah jika Ki Hajar Dewantara  pada saat itu memberikan pijakan bagi guru tidak hanya sekedar sebagai pendidik, lebih dari itu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan menjadi contoh bagi lingkungannya.Berikut wawancara wartawan Jember Kita (JK) bersama Drs.I.Wayan Wesa Atmaja, MSi Ketua PGRI Kabupaten Jember, apa dan bagaimana pandangannya terkait hari pendidikan nasional ?.

Momentum hari pendidikan nasional (hardiknas)  bagi seorang pendidik itu apa?

      “Memaknai hardiknas itu bagi seorang pendidik sebaiknya dilihat dari ketokohannya yakni Ki Hajar Dewantara, menurut saya beliau secara tegas dan gagah perkasa memberikan kepada kita sebuah tauladan prinsip luhur  yakni sing ngarso sung tulodho, ing madyo madya mangun karso, tut wuri handayani.Pemimpin setidaknya memegang teguh prinsip itu, hakekatnya juga guru adalah bagian dari seorang pemimpin dan kalau hal itu diterjemahkan secara kontektual pendidikan maka guru adalah digugu dan ditiru bukan wagu serta selalu keliru,”

       Apakah prinsip dari pahlawan pendidikan itu selama ini sudah diaplikasikan oleh seorang pendidik terhadap profesinya?.

       “Itu menjadi bagian esensial dari sosok seorang guru karena ada empat kompetensi dimiliki oleh pendidik dan itu menjadi sebuah persyaratan, kompetensi itu diantaranya adalah professional, pedagogik, personal dan sosial.Pada tataran kompetensi personal inilah guru mau tidak mau harus memiliki kepribadian baik, karena sebagai tokoh panutan hal itu jelas akan ditiru atau dicontoh oleh semua pihak tidak terkecuali oleh anak didik.

       Lantas bagaimana guru bersikap ketika dirinya berada di ruang kelas melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM)?.

       “Guru tidak boleh bersikap otoriter dan arogan karena itu sudah tidak jamannya lagi, seorang pendidik jangan sampai ditakuti oleh siswanya justru sebaliknya guru disegani dan memiliki wibawa.Kode etik profesi menjadi pedoman guru ketika melaksanakan ketika melaksanakan aktifitas pendidikan dan pembelajaran, setidaknya guru harus asah, asih dan asuh dan mendidik siswa itu tidak gampang dan perlu melakukan pendekatan kasih sayang.

       Ketika muncul fenomena siswa tidak takut kepada guru dan siswa cenderung garang atau berani, menurut Pak Wayan sebagai Ketua PGRI Kabupaten Jember sebenarnya hal itu apakah ada yang salah?.

       “Pendidikan adalah sistemik, artinya anak didik berubah prilaku menjadi garang, galak ataupun sangar maka hal tersebut harus dilihat secara utuh dan komprehensif.Artinya pendidikan itu tidak hanya guiru sebai pendidik formal di sekolah, lebih dari itu orangtua juga sekaligus pendidik formal di rumah, diluar itu juga ada pendidik informal seperti media masa baik itu koran, radio maupun televisi,”.

         Berbicara soal guru jelas tidak bisa dipisahkan dari sumber daya manusia (SDM),  apakah anda melihat selama ini guru dari TK sampai SMA atau SMK di Kabupaten Jember sudah berkwalitas?.

          “Memang selama ini belum ada penelitian terkait SDM pendidik khususnya hal kompetensi mereka, artinya PGRI Kabupaten Jember maupun dinas pendidikan belum mengarah kesana. Namun selama ini untuk mengetahui SDM guru di Kabupaten Jember hanya didasarkan kepada rujukan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG), karena sejatinya UKG merupakan peta kompetensi bagi seorang guru dan kwalitas guru di Kabupaten Jember ini cukup lumayan dan kedepan perlu ditingkatkan lagi,”.

            Langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk mendongkrak kwalitas guru?

            “Salahsatunya adalah melalui pengembangan profesi berkelanjutan dan itu telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemkab Jember melalui kegiatan workshop, jelas itu hal positif karena tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik kedepan cukup berat untuk memintarkan anak-anak bangsa menjadi generasi cerdas sesuai amanah dari UUD 1945,”.

Sebagai Ketua PGRI Kabupaten Jember, apakah anda menilai pendidikan di Kabupaten Jember sudah berhasil sepenuhnya?.

“Memang diakui kwalitas pendidikan di Kabupaten Jember grafiknya semakin membaik, hal itu terlihat dari hasil ujian nasional (UN) dan bahkan pernah menduduki posisi sepuluh besar di Jawa Timu.Dari segi infrastruktur ada gejala peningkatan pendidikan khususnya akses yakni bangunan gedung sekolah meskipun sebagian besar adalah bantuan dari pemerintah pusat, sehingga angka putus sekolah di Kabupaten Jember mampu diminimalisir.Harapan saya kedepan setidaknya di kota kita tercinta ini ada education tourist resort atau wisata pendidikan, karena diakui tidak ada sekolah ekselen di Kabupaten Jember yang memiliki infrastrukur bagus, lengkap dan memadai seperti di Kabupten Lumajang dan pantas menjadi jujugan studi banding bagi kabupaten lain ”

Adakah solusi yang akan ditawarkan dari PGRI Kabupaten Jember agar pendidikan di kota suwar-suwar ini nantinya lebih baik lagi?.

“Kalau saya pribadi memiliki keinginan agar di Kabupaten Jember kesenjangan pendidikan di kota dan di desa bisa dikurangi, artinya sekolah yang berkwalitas hanya ada di kota saja dan itu berakibat adanya urbanisasi pendidikan yakni mereka yang bertempat tinggal di desa hanya karena mengejar kwalitas, solusinya di desa khususnya di masing-masing kecamatan setidaknya ada 1 sekolah bermutu dari jenjang tingkatan baik itu SD, SMP, SMA maupun SMK.Jika sekolah di kota semakin membaik kwalitasnya maka kesenjangan semakin menguat, jelas sekolah di desa semakin tertinggal dan tidak dilirik oleh calon siswa dan mereka akan memiliki kebanggaan jika sekolah di kota”

  Seperti diketahui bahwa di Kabupaten Jember banyak didirikan sekolah kejuruan atau SMK dan tujuannya adalah mencetak lulusan siap pakai, apakah hal ini sudah bisa mengatasi permasalaha pengangguran?.Mengingat setiap tahun seiring pengumuman hasil ujian nasional,  tidak dipungkiri jumlah lulusan semakin bertambah dan menyisakan persoalan tersendiri yakni munculnya pengangguran baru, karena tidak seimbangnya antara jumlah lulusan dan kesempatan kerja .

“Keberadaan SMK di Kabupaten Jember memang lebih banyak ketimbang SMA, arahnya memang untuk memecahkan tingginya angka pengangguran yakni tersedia tenaga kerja yang memiliki keahlian.Namun mengikis pengangguran secara total dibutuhkan waktu panjang, sementara ini memang lulusan SMK mampu memberi kontribusi mengurangi angka pengangguran.Pendirian SMK tidak serta merta bisa menyelesaikan problem pegangguran,dimana saat ini perbandingan jumlah antara SMA dan SMK adalah 30 banding 70, karena itu perlu dipikirkan juga hendaknya pembangunan SMK harus memenuhi delapan standart pendidikan dan jangan hanyar sekedar membangun SMK tanpa diimbangi kwalitas,”(winardyasto)

No Response

Comments are closed.