Jember Kota Pandhalungan

TIDAK INGIN TINGGALKAN PROFESI PENDIDIK MESKI SUKSES MENJADI DALANG

Memiliki profesi ganda yakni sebagai pendidik dan dalang wayang kulit tidak membuat diri Drs.Siswo Utomo merasa canggung, bahkan guru mata pelajaran matematika SMPN 2 Umbulsari ini tampil percaya diri saat berada di ruang kelas memberi pelajaran kepada anak didiknya.Kendati tawaran tampil untuk mendalang terus mengalir hingga ke kota lain , namun bukan berarti dia menomerduakan kewajibannya sebagai pendidik.Pintar membagi waktu dalah kunci utama agar kedua profesinya itu bisa berjalan beriringan, pulang hingga terbitnya fajar adalah hal lumrah bagi Siswo tapi hal itu bukan halangan baginya untuk tatap muka untuk memintarkan generasi muda.

Pimpinan Sabdo Kawedhar itu awalnya sempat dilarang oleh sang ayah Ki Kastaman untuk mewarisi bakat pedhalangan, alasannya sepele Ki Kastaman tidak ingin melihat anaknya kelak memiliki istri lebih dari satu.Berkat kemauan keras dan mampu menyakinkan orangtuanya, Siswo akhirnya direstui untuk menjadi dalang dan namanya dari hari ke hari semakin berkibar, bahkan dalang ganteng sebutan bagi pria kelahiran 5 Oktober 1965 itu  masih ingat lakon pertama yang ia mainkan diatas pentas yakni Petruk dadi ratu dan almarhum Ki Narto Sabdo adalah dalang kebanggaanya dan sekaligus menjadi inspirasi tersendiri ketika sudah berada diatas panggung.

“Wayang kulit itu bagi saya adalah kesenian adiluhung dan hanya terdapat di Indonesia meski di India juga ada, kesenian tradisional ini bukan hanya sekedar tontonan menghibur masyarakatnya.Lebih dari itu wayang kulit memiliki filosofi kehidupan dan hal itu masih pantas untuk diterapkan di jaman teknologi tinggi, karena itu setiap mengajar tidak lupa  filosofi wayang kulit selalu saya sentil kepada murid.Memang antara matematika dan wayang kulit tidak ada korelasinya, namun setidaknya kecintaan kepada wayang kulit sebagai aset budaya bangsa selalu saya tanamkan kepada anak didik,”terang Siswo yang mulai mendalang sejak tahun 1985 lalu.

Siswo sendiri saat ini merasa miris melihat wayang kulit hanya digandrungi oleh orang dewasa saja , padahal kesenian tradisional tersebut sekarang lebih mengikuti trend dan tampil menarik.Campursari dangdut saat ini tidak dipungkiri lebih mewarnai tampilan wayang kulit, bahkan mampu mengundang banyak penonton ditambah lagi kepiawaian dalang untuk mengocok perut penonton melalui banyolan segar saat goro-goro berlangsung.Hal inilah adalah salah satu sebab kesenian wayang kulit bisa eksis di Kabupaten Jember, kendati masyarakatnya adalah hetrogen yakni wilayah utara lebih didominasi oleh suku Madura dan wilayah selatan lebih banyak suku  Jawa.

“Di Kabupaten Jember ini tidak sedikit jumlah dalang pewayangan itu artinya kesenian ini mampu melakukan regenerasi, jelas ini suatu hal yang membanggakan ditengah arus modernisasi dan upaya itu harus didukung oleh semua pihak termasuk pemerintah.Tidak selalu lakon wayang kulit itu ditentukan oleh tuan rumah, tapi terkadang juga dari dalang yang bersangkutan dan biasanya lakon diplih  berdasarkan situasi dan keadaan lingkungan.Saya sangat senang sekali lakon dewa ruci yang menceritakan hubungan antara Tuhan dan manusia atau manunggaling kawulo gusti, agar kita selalu mengingat kepada-NYA dan selalu berbuat kebajikan,”imbuh Siswo.

Kendati saat ini wayang kulit kerap kali dijadikan ajang untuk menyuarakan keberhasilan pembangunan oleh pemerintah, Siswo tak terlalu mempersalahkan hal tersebut.Menurutnya, dalang juga adalah warganegara dan ketika dirinya diminta untuk menyampaikan “pesan sponsor”tersebut, Siswo tidak pernah menampik dan tetap dilakukannya sebagai upaya membantu tugas pemerintah, karena hal itu diyakini tidak akan berpengaruh terhadap cerita atau lakon yang akan dipentaskan.Apalagi dulunya wayang kulit pernah dijadikan sebagai sarana penyebaran agama Islam di Indonesia, tak heran jika waktu itu wayang kulit pernah mengalami masa kejayaan.

Ketika ditanya sampai kapan dirinya akan berhenti mendalang?, Siswo Utomo sembari mengumbar senyum justru menjawab enteng, yakni  sampai tidak lagi tertarik kepada wayang kulit.Tak heran bila sebagai pendidik Siswo juga terus mengenalkan wayang kulit khususnya kepada generasi muda tak terkecuali di lingkungan sekolahnya, hal itu merupakan bentuk keprihatinan karena wayang kulit belum sepenuhnya melekat di hati masyarakat.(winardyasto)

No Response

Comments are closed.