Jember Kota Pandhalungan

Upaya Mendukung Pengendalian Inflasi Daerah untuk Kesejahteraan Masyarakat

11058579_790235094427460_2757722679302422792_o

Pada bulan juli, jember tercatat mengalami inflasi sebesar 0,94%(mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi jatim, 8 Kab/kota IHK di Jatim dan Nasional. Secara tahunan inflasi Jember mencapai 6,25% (yoy), juga masih lebih rendah dibandingkan inflasi Jatim (6,81%) dan Nasional (7,26%). Berdasarkan jenisnya, sepuluh komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada bulan Juli 2015 antara lain angkutan antar kota, daging ayam ras, udang basah, tongkol pindang, sabun deterger, terong panjang, tempe, cumi-cumi, bayam dan beras. Sementara itu, sepuluh komoditas penyumbang deflasi tertinggi pada bulan ini adalah bwang merah, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, baju kaos berkerah, celana panjang jeans, kecambah, semen, kelapa dan jaket.

Berdasarkan disagregasi inflasi Kabupaten Jember, seluruh kelompok komponen pembentuknya mengalami inflasi dengan andil inflasi tertinggi pada kelompok volatile food, kemudian disusul oleh kelompok administered price dan kelompok core.

  • Kelompok volatile food tercatat mengalami inflasi sebesar 3,21% atau menymbang inflasi sebesar 0,67%. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada komoditas daging ayam ras (15,03%), daging ayam kampung (11,20%), daging sapi (2,60%), beras (0,59%), telur ayam ras (1,47%) akibat meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri
  • Kelompok administered price tercatat mengalami inflasi sebesar 1,01% atau menyumbang inflasi sebesar 0,21%, lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan lalu. Pendorong inflasi tersebut merupakan peningkatan tarif kereta api sebesar 5,41%, tarif listrik sebesar 0,03%, rokok kretek (0,15%), rokok putih (0,08%) dan rokok kretek filter (0,07%) dalam rangka penyesuaian harga rokok menyusul rencana kenaikan tarif cukai dan pajak pertambahan nilai oleh Pemerintah pada tahun 2015.
  • Kenaikan harga sebesar 0,10% pada kelompok core memberikan andil inflasi sebesar 0,06%. Inflasi tersebut terutama dipicu oleh kenaikan tarif angkutan antar kota sebesar 24%, kendaraan carter (7,57%), tarif travel (10,42%) yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah penumpang pada momen liburan, Hari Raya Idul Fitri dan juga diduga karena ditutupnya bandara akibat dampak abu vulkanik yang berasal dari erupsi G. Raung.

Peningkatan permintaan masyarakan tercermin dari hasil Survei Konsumen (SK) dan Survei Penjualan Eceran (SPE) Periode Juli 2015.

  • Survei Konsumen (SK) pada bulan Juli 2015 menunjukkan adanya penguatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 17,3 poin menjadi 127,5, didorong oleh penguatan pada kedua indeks pembentuknya, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE), karena meningkatnya indeks ketersediaan lapangan kerja dan indeks kebutuhan barang-barang tahan lama serta menguatnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) karena meningkatnya indeks perkiraan penghasilan konsumen, ketersediaan lapangan kerja dan peningkatan perkiraan kegiatan usaha.
  • Sejalan dengan peningkatan konsumsi, Indeks Riil Penjualan Eceran (IPR) diperkirakan meningkat sebesar 12,5 poin menjadi 117,3, sebagaimana terkonfirmasi dari hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) juli 2015

Memperhatikan perkembangan dan risiko inflasi pada bulan Agustus 2015, Kabupaten Jember diperkirakan akan mengalami deflasi berkisar di antara 0.03 hingga 0,08% (mtm) sehingga secara tahunan inflasi Jember berada di kisaran 6,23% – 6,28%. Deflasi tersebut diperkirakan terjadi karena mulai menurunnya konsumsi masyarakat pasca berakhirnya momen lebaran. Risiko inflasi yang terjadi di bulan Agustus 2015 diperkirakan adalah sebagai berikut:

inflasi

No Response

Comments are closed.